<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Kedokteran UGM</title>
	<atom:link href="http://dokterugm.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://dokterugm.wordpress.com</link>
	<description>Tempat Belajar Ilmu Kedokteran</description>
	<lastBuildDate>Thu, 10 Jun 2010 00:56:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='dokterugm.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Kedokteran UGM</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://dokterugm.wordpress.com/osd.xml" title="Kedokteran UGM" />
	<atom:link rel='hub' href='http://dokterugm.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Batu Ureter Distal</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com/2010/06/10/batu-ureter-distal/</link>
		<comments>http://dokterugm.wordpress.com/2010/06/10/batu-ureter-distal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Jun 2010 00:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dokterugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Urology]]></category>
		<category><![CDATA[batu]]></category>
		<category><![CDATA[kemih]]></category>
		<category><![CDATA[kencing]]></category>
		<category><![CDATA[saluran]]></category>
		<category><![CDATA[ureter]]></category>
		<category><![CDATA[ureterolithiasis]]></category>
		<category><![CDATA[ureterolitiasis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dokterugm.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Pada beberapa buku, ureter terbagi menjadi dua atau tiga bagian. Pada ureter yang terbagi dua, yaitu ureter proksimal dan ureter distal. Ureter proksimal terletak diatas pembuluh darah iliaka communis dan secara esensial meliputi ureter 1/3 proksimal pada konsep ureter yang dibagi tiga segmen. Pada pembagian ureter yang terbagi tiga, ureter sepertiga media meliputi segmen yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=62&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Pada beberapa buku, ureter terbagi menjadi dua atau tiga bagian. Pada  ureter yang terbagi dua, yaitu ureter proksimal dan ureter distal.  Ureter proksimal terletak diatas pembuluh darah iliaka communis dan  secara esensial meliputi ureter 1/3 proksimal pada konsep ureter yang  dibagi tiga segmen. Pada pembagian ureter yang terbagi tiga, ureter  sepertiga media meliputi segmen yang overlaps dengan tulang sacrum.  Sedangkan ureter 1/3 distal meliputi ureter yang terdapat pada  juxtavecicular junction yang terletak dibawah tulang iliaca. <span id="more-62"></span>Ureter  mengalirkan urine dari ginjal ke vesica urinaria. Panjangnya 25 cm dan  mempunyai 3 penyempitan sepanjang perjalannya: 1. pada pelvic-ureteric  junction 2. pada waktu ureter menyilang didepan A.iliaca communis ketika  melewati pinggir panggul. 3. pada waktu ureter menembus dinding vesica  urinaria. Ureter keluar dari hilus ginjal dan berjalan vertikal ke bawah  dibelakang peritoneum parietale sepanjang sisi medial m. Psoas mayor  yang memisahkannya dari ujung-ujung processus tranversus vertebrae  lumbales. Ureter masuk ke rongga panggul dengan menyilang didepan A.  Iliaca communis, kemudian berjalan ke arah posterolateral pada dinding  lateral pelvis menelusuri pinggir anterior incisura ischiadica major  hingga mencapai spina ischiadica. Dari sini ureter membelok kearah  antero medial dan berjalan tepat diatas diaphragma hingga mencapai basis  vesicae pada suatu titik tepat dibelakang tuberculum pubicum. Kearah  posterior ureter kanan dan kiri berhubungan dengan m. Psoas major,  n.genitofemoralis dan bagian distal A. Iliaca communis. Kearah inferior  ureter kanan dan kiri tertutup oleh peritoneum dan disilang oleh a.  Spermatica interna. Selain itu disebelah anterior ureter kanan  berhubungan dengan: duodenum bagian II, A/V. Colica dextra dan  ileocolica, mesentrium dan iluem terminal, dan terletak disebelah kanan  V.cava inferior. Sedangkan disebelah anterior ureter kiri: disilangi  A/V. Colica sinistra, mesocolon sigmoideum dan colon sigmoideum, dan  terletak disebelah kiri A. Mesentrica inferior. B. ETIOLOGI Batu ureter  pada umumnya berasal dari batu ginjal yang turun ke ureter. Gerakan  peristaltik ureter mencoba mendorong batu ke distal, sehingga akan  menimbulkan kontraksi yang kuat. Batu dapat terbentuk di seluruh saluran  kemih, terutama pada tempat-tempat yang sering mengalami hambatan  aliran urin (stasis urin), yaitu pada system kalises ginjal atau buli  buli. Adanya kelainan bawaan pada pelviokalises (stenosis uretero  pelvis), divertikel, obstruksi infravesika kronis merupakan keadaan  keadaan yang memudahkan terjadinya pembentukan batu. Kecenderungan  terjadinya batu menurut para penyidik mengikuti suatu tata cara tertentu  yaitu: 1. Adanya supersaturasi dari zat pembentuk batu. 2. Adanya  faktor yang menyebabkan kristalisasi zat tersebut 3. Adanya zat yang  menyebab kristal berkumpul jadi satu. Dasar Proses kimia fisika Proses  dasar pembentukan batu adalah supersaturasi. Seperti yang terjadi dalam  gelas berisi air. Bila di dalamnya terkandung garam atau kristal sodium  dalam jumlah kecil, maka larut dalam air. Bila dilakukan penambahan  garam terus menerus, suatu saat akan tercapai suatu konsentrasi di mana  garam tersebut tidak dapat lagi larut dalam air. Pada konsentasi ini,  dikatakan garam tersaturasi. Bila garam ditambahkan terus, maka akan  mengendap, jika pH atau suhu tidak berubah, tidak ditambahkan zat/ bahan  lain yang membantu kelarutan garam dalam air. Titik saturasi di mana  mulai terjadi kristalisasi, disebut thermodynamic solubility product  (Ksp). Ksp, adalah suatu konstanta, sama dengan hasil konsentrasi  komponen kimia murni dalam keseimbangan antara komponen terlarut dan  komponen pelarut. Ksp, kalsium oksalat monohidrat dalam air suling pada  37oC adalah 2,34 x 10-9. Begitu juga yang terjadi dalam urin. Bila  konsentrasi kalsium dan oksalat lebih tinggi dari Kspnya, maka akan  mengendap. Tetapi di dalam urin terdapat zat-zat inhibitor dan molekul  lain yang memungkinkan konsentrasi kalsium oksalat tidak mengendap  walaupun melampui Kspnya. Keadaan ini, dikatakan, urin metastabel  terhadap kalsium oksalat. Bila konsentrasi kalsium oksalat ditingkatkan  lagi, akan tercapai konsentrasi di mana tidak dapat lagi larut dalam  urin. Konsentrasi ini disebut Kf yang merupakan formation product  kalsium oksalat dalam urin. Pada umumnya, komponen pembentuk batu, dalam  urin, berada dalam konsentrasi metastabel antara Ksp, dan Kf. Setiap  senyawa mempunyai Kf tertentu pada suhu dan pH tertentu. Faktor suhu  tidak terlalu penting, karena suhu manusia relatif konstan (37oC). Yang  banyak berpengaruh adalah pH urin. Berbeda dengan air, didalam urin  terdapat molekul lain yang dapat berinteraksi, sehingga dapat mengubah  kelarutannya. Misalnya urea, asam urat, asam sitrat dan kompleks  mukoprotein. Pembentukan Batu Dalam urin normal, konsentrasi kalsium  oksalat 4 kali kelarutannya, Karena terdapat inhibitor dan molekul  lainnya, presipitasi baru akan terjadi bila supersaturasinya mencapai 7  sampai 11 kali kelarutannya. Hal hal yang dapat mempengaruhi  supersaturasi kalsium oksalat dalam urin, antara lain, volume urin yang  rendah, meningkatnya ekskresi kalsium, oksalat, fosfat, urat, rendahnya  ekskresi sitrat dan magnesium. Proses pembentukan inti batu yang terdiri  dari larutan murni disebut nukleasi homogen. Terdapat 3 macam bahan  yang mempengaruhi proscs pembentukan batu dalam urin, yaitu: inhibitor,  kompleksor dan promotor. Inhibitor melekat pada kristal, sehingga  mencegah pertumbuhan dan memperlambat agregasi. Inhibitor untuk kalsium  oksalat dan kalsium fosfat, antara lain magnesium, sitrat, pirofosfat  dan nefrokalsin. Dalam urin terdapat 2 glikoprotein yang bersifat  inhibitor, yaitu nefrokalsin dan protein Tanim Harsfall, yang menghambat  agregasi pada urin yang pekat. Kompleksor yang penting untuk kalsium  oksalat adalah sitrat, yang mempunyai efek maksimal pada pH urin 6,5.  Magnesium bersenyawa dengan oksalat, membentuk senyawa lain yang larut  dalam urin. Magnesium dan sitrat bersifat kompleksor dan inhibitor.  Promotor menginisiasi satu fase pembentukan kristal, tetapi menghambat  fase yang lain. Misalnya glikosaminoglikan, menunjang proses nukleasi,  tetapi menghambat proses pertumbuhan dan agregasi. Matriks batu adalah  protein non kristal yang merupakan bagian dari batu. Kandungan matriks  dari batu, bervariasi, umumnya 3% dari bobot batu. Peranan matriks pada  pembentukan batu masih belum jelas. Finlayson dkk., berpendapat matriks  hanya menambah/ melapisi kristal yang membentuk batu. Polimerisasi  matriks diperlukan dalam pembentukan batu. Matriks dibentuk dalam  tubulus renal. Dutoit dkk., mengajukan hipotesa terbentuknya batu ginjal  karena adanya penurunan aktivitas ensim urokinase dan peningkatan  sialidase yang berakibat terjadinya meneralisasi matriks batu. C. JENIS  JENIS BATU 1. BATU KALSIUM OKSALAT Hiperkalsiuria Hubungan antara  ekskresi kalsim urin dan batu ginjal oksalat, pertama kali dilaporkan  oleh Flock (1939), kemudian oleh Albright dkk. Antara 30 60 % pasien  dengan batu ginjal kalsium oksalat, terdapat peningkatan kalsium dalam  urin, tanpa peningkatan kalsium dalam darah. Hiperkalsiuri didefinisikan  sebagai ekskresi kalsium lebih dari 200 mg/hari, lebih dari 4 mg/kf,  BB/hari, lebih dari 7 mmol/hari pada laki laki, lebih dari 6 mmol/hari  pada wanita, atau lebih dari 0,1 ! mg/100 ml GFR. Hiperkalsiuri  menyebabkan supersaturasi kalsium di urin. Tetapi juga membentuk  kompleks dengan anion inhibitor di urin, misalnya sitrat atau  glikosaininoglikan, yang dapat mencegah terbentuknya batu. 1.  Hiperkalsiuria absorptif. Kelainan primernya adalah peningkatan absorpsi  kalsium intestinal khususnya jejunum. Sehingga hal ini akan membebani  glomerulus. Akibatnya memacu hormon paratiroid, yang mengakibatkan  penurunan reabsorbsi oleh tubulus, dan berakhir dengan hiperkalsiuria,  dan pembentukan batu. Normal dari kalsium intake lebih kurang 900 1000  mg/hari. Kira kira 1/3 diabsorpsi diusus halus dan kira kira 150 200 mg  diekskresi diurin. Kalsium disimpan sebagian besar ditulang. Sebagian  besar kalium diekskresi bersama feses. Kepustakaan membagi absorbtif  hiperkalsiuria menjadi 3 tipe. 1. Absorbtif hiperkalsiuria Tipe I (AH  1). AH-1 adalah bentuk berat dari hiperkalsiuria yang ditandai kalsium  urin lebih dari 200 mg/hari, dengan tanpa dipengaruhi diet (diet rendah  atau tinggi kalsium intak). Dengan angka kekerapan 15% dari seluruh batu  kalsium. Pada tipe ini diperkirakan usus lebih lama menyerap kalsium  dari makanan. Pencegahan dengan memberikan zat pencegahan penyerapan  seprti selulosa fasfat 5 gr 2 3 kali sehari atau dapat deberikan HCT  dengan efektifitas tidak lebih dari 5 tahun. 2. Absorbtif hiperkalsiuria  Tipe 11 (AH 11). AH II adalah bentuk ringan sampai sedang, hiperkalsium  yang terjadi disebabkan peningkatan kalsium intake. Penyebab yang umum  dari batu kalsium. Bila intake diturunkan maka ekskresi kalsium akan  normal lagi. Pencegahan dengan diet rendah kalsium, bila ekskresi tetap  tinggi dapat diberikan selulosa. 3. Absorbtif hiperkalsiuria Tipe III  (AH III). AH III disebabkan kebocoran fosfat diginjal, kasus ini  merunakan 5% dari kasus batu ginjal. Pengobatan dapat diberikan  orthofosfat 250-2000 gr, 3 – 4 kali sehari. 2. Hiperkalsiuria renal  Kelainan primernya adalah pada ekskresi kalsium berlebihan di ginjal  Akibatnya terjadi penurunan kadar kalsium dalam sirkulasi dan  menstimulasi produksi PTH. Peningkatan kadar kalsium urin puasa dan  stimulasi fungsi paratiroid, merupakan criteria pembeda hiperkalsiuri  renal dari hiperkalsiuri absorptif 2. Hiperkalsiuria resorptif. Sindroma  ini sinonim dengan hiperparatiroid samar. Hiperkalsiuria terjadi akibat  kelebihan PTH dependent bone resorptior, peningkatan absorpsi  intestinal oleh PTH dan PTH dependent synthesis of 2,5 dihydroxy  vitamine D3. 3. Hiperkalsiuria idiopatik Beberapa penilitian menunjukkan  bahwa Hiperkalsiuria idopatik adalah kelainan bawaan yang diturunkan  secara autosomal dominan, meskipun polanya dapat menggambarkan kontrol  poligenik yang baik pada ekskresi kalsium. Diagnosis dibuat dengan tes  pembebanan kalsiurn (calcium load test). Hiperkalsemia 1.  Hiperparatiroidisme primer Yendt dan Gagne (1968) meneliti bahwa hanya  1% dari pasien dengan hiperparatiroidisme, menderita penyakit batu.  Untuk mendiagnose penyakit ini harus ditemukan adanya hiperkalsemia  tanpa disertai adanya penyakit lain yang dapat meningkatkan kadar  kalsium darah. Hiperparatiroidisnie harus dicurigai pada setiap pasien  dengan batu ginjal dan kadar kalsium seruim mendekati batas atas nilai  normal atau di atas nilai 10,1 mg/ dL (Menon, 1986). Honnon assay,  terhadap hormor utuh, mid molekul atau molekul terminal karboksi dari  PTH meningkat pada lebih dari 90% pasien dengan hiperparatiroidisme  primer, terbukti secara bedah. Mekanisine terjadinya batu, menurut Pak  dkk., adalah menurunnya inhibitor (sitrat) dan meningkatnya promotor  pembentulan batu dalam urin. Tetapi bedah untuk mengangkat kelenjar  paratiroid pada penyakit ini memberikan angka keberhasilan lebih dari 90  %. 2. Sarkoidosis dan Penyakit Granulomatosa yang lain. Banyak penyukit  granulomatosa termasuk sarkoidosis, tuberculosis, lepra,  histoplassmosis, dan lainnya, sering disertai hiperkalsemia. Terutama  pada sarkoidosis, dihasilkan 1,25 dihidroksi vitamin D3 yang  meningkatkan absorpsi kalsium usus, hiperkalsemia dan hiperkalsiuria.  Secara praktis, diagnostik yang penting adalah heperkalsemia yang  memberikan respon terhadap pemberian steroid. (Breslauw dkk,1982),  berpendapat bahwa steroid bekerja terutama di mukosa intestinal pada  pasien sarkoidosis dengan menurunkan absorpsi kalsium di usus. 3.  Keganasan yang disertai hiperkalsemia. Keganasan merupakan penyebab  tersering hiperkalsemia pada pasien rawat inap, sedang pada rawat jalan,  penyebab tersering hiperkalsemia adalah hiperparatirodisme primer.  Hiperkalsemia terjadi pada keganasan paru dan mammae (60%), kanker  ginjal (10 15 %), kepala dan leher (10%), keganasan hematologis,  misalnya mieloma (10%). Mekanisme terjadinya hiperkalsemia pada  keganasan, khususnya multiple mieloma, adalah sekresi sejumlah sitokin  yang berperan local di dalam sumsum tulang untuk merangsang osteoclastic  bone resorption (Eilon dan Mundy, 1978; Ralston et al, 1982). Sitokin  sitokin ini disebut sebagai osteociastic activating factors dan terdiri  dari prostaglandin E, tumor necrotizing factors alpha dan beta,  interlekin 1 alpha dan beta; dan transforming growth factors alpha dan  beta (Mundy, 1989; Orloff dan Stewart, 1992). Factor faktor ini  menstimulasi osteoklast untuk melepas hidrolisat yang dibutuhkan untuk  melarutkan tulang. Penyebab tersering hiperkalsemia pada keganasan dan  pada pasien dengan metastatik skeletal adalah zat yang diproduksi oleh  tumor yang disebut PTH/ relaed peptide. (Edelson dan Kleerekoper, 1995).  4. Hipeniroidisme Kira Kira 5 10% pasien dengan tirodisme disertai  hiperkalsemia. Karena kadar albumin serum rata rata rendah, insidensi  hiperkalsemia dapat luput. Bila kalsium terionisasi dalam serum diukur,  kira kira 50% pasien tirotoksikosis didapatkan hiperkalsemia ringan  (Burman dkk, 1976; Mosekilde dan Christianse, 1977). Tirotoksikosis  mudah dikenali pada sebagian besar pasien melalui anamnesis dan  pemeriksaan fisik. Hiperkalsemia umumnya ringan, jarang melebihi 11,5  mg/d!, Bila hiperkalsernia berat terjadi pada pasien tirotoksikosis yang  disertai hiperkalsernia, harus dicurigai kemungkinan adanya adenoma  paratiroid (Menon, 1986). Hiperkalsemia dan hiperkalsiuria akibat  stimulasi resorpsi tulang yang diperantarai oleh tiroksin dan triiodo  tironin, dan direfleksikan oleh peningkatan alkali fosfatase serum dan  ekskresi hidroksi prolin urin. Kadar PTH rendah pada pasien dengan  hipertiroidisme (Menon, 1986). Kalkuli renal jarang terjadi pada pasien  tirotoksik. 5. Hiperkalsernia yang diinduksi oleh Glukokortikoid.  Glukokortikod mempengaruhi metabolisme kalsium melalui 3 mekanisme yaitu  pada tulang, intestinal dan kelenjar paratiroid. Di antara ketiganya,  efek terpenting pada tulang. Glukokortikoid menyebabkan peningkatan  berlebihan pada resorpsi tulang, penurunan pembentukan tulang dan  osteopenia. Kalkuli renal, tidak jarang ditemukan pada sindroma Cushing  dan pasien Cushing pertama menderita batu ginjal (Cushing, 1932). Antara  4% dan 65% pasien sindroma Cushing, menderita batu ginjal (Pyrah,  1979). Insidensi kalsifikasi renal asimptomatik, lebih tinggi (Scholz  dkk., 1957). 6. Phaeochromasitoma Hiperkalsemia, bila dijumpai pada  pasien dengan phaeochromasitoma, paling sering pada pasien dengan  multiple neoplasi endocrine tipe 2 (yang merupakan hiperparatiroidisme  primer), karsinoma meduler tiroid dan tumor kelenjar adrenal (Samaan  dkk., 1976; Drezner dan Lebofitz, 1978). Katekolamin diketahui  menstimulasi sekresi PTH in vitro (Sackner dkk, 1960) dan juga  menstimulasi osteoclastic activated bone resorption. 7. Hipokalsiuri  hipokalsemia familial Hipokalsiuri hipokalsemia familial merupakan  kelainan autosomal dominan dan tampaknya merupakan kelainan benigna yang  ditandai dengan hiperkalsemia pada anak anak (Law dan Heath, 1985).  Pasien cenderung asimptomatik dan tanpa tanda tanda hiperparatiroid.  Didiagnosis dengan ditemukannya hiperkalsemia relatif di dalam darah. 8.  Immobilisasi Bed rest yang lama dapat menyebabkan hiperkalsemia,  mengakibatkan peningkatan turn over tulang. Hiperkalsemia yang hanya  disebabkan oleh imobilisasi, jarang ditemukan pada pasien dengan  metabolisme tulang yang normal. Hiperkalsemia paling sering ditemukan,  bila kondisi lain, seperti penyakit Paget (dengan turn over tulang  dipercepat), hiperparatiroidisme primer atau keganasan, menyertai pasien  dengan imobilisasi. 9. Hiperkalsemia iatrogenik. Diuretika Thiazide  dapat menyebabkan hiperkalsemia dengan meningkatkan resorpsi kalsium di  tubulus proksimal, menurunkan volume plasma dan meninggikan sensitivitas  jaringan target terhadap PTH (Orloff dan Stewart,1992). Hal yang  serupa, lithium, dapat menginduksi suatu keadaan yang mirip  hiperparatiroidisme primer. Hiperkalsemia dilaporkan pada pasien dengan  metastasis skeletal yang luas akibat kanker payudara dan diterapi dengan  estrogen serta anti estrogen (Tamoxiphen) (Lega dkk, 1981). Pasien yang  minum sejumlah susu dan alkali yang dapat diserap untuk terapi peptic  ulcer, dapat menyebabkan suatu keadaan yang disebut sindroma susu  alkali. Pada pasien ini timbul alkalosis metabolic, heperkalsemia,  hiperfosfatemia, nefrokalsinosis dan insufisiensi renal (Orwoll, 1982),  tetapi tidak ditemui hiperkalsiuri. Hiperoksaluria Hiperoksaluria adalah  bila kadar ekskresi oksalat diurin lebih dari 45 mg/hari. Bila kadar  ringan sampai sedang (45 80 mg/hari) mungkin disebabkan diet dari  hiperoksalat. Bila kadar lebih dari 80 mg/hari, diagnosis  nephrolithiasis mungkin disebabkan hiperoksaluria primer ataupum  enterik. Penyebab utama dari batu kalsium pada sebagian besar pasien  dengan hiperoksaluria adalah enterik hiperoksaluria. Penyakit daerah  ileum seperti inflamatory bowel disease, reseksi gaster atau usus atau  jejenoileal by pass sebagai penyebab hiperoksaluria. Garam empedu dan  asam lemak meningkatkan permeabilitas mukosa yang berakibat peningkatan  transport aksalat di usus. Gangguan absorbsi lemak merupakan gambaran  khas penyakit ilcal, yang mengarah pada pembentukan batu kalsium. Pada  enterik hiperoksaluria, pembentukan batu dapat juga disebabkan oleh  berkurangnya urin output karena dehidrasi, atau low urinary citrat yang  sebabkan asidosis metabolik. Pengobatan dengan suplementasi kalsium.  Kalsium mengikat oksalat dan membatasi absorsinya. Terapi yang lain  adalah memberikan suplemem megnesium, ataupun diet asam lemak rantai  sedang dan trigliserida. Terdapat 3 mekanisme hiperoksaluria yang  diketahui, yaitu: 1. Meningkatnya produksi oksalat, misalnya pada  hiperoksaluria primer dan meningkatnya konversi dalam hati, termasuk  metabolisme inborn error. 2. Meningkatnya absorpsi oksalat pada pasien  dengan sindroma usus pendek atau malabsorpsi. 3. Hiperoksaluria  idiopatik pada pasien batu oksalat residif. Hiperoksaluria primer  terdiri atas dua tipe. A. Tipe I Autosomal resesif mengakibatkan defek  dari enzym alanin glyxylate amino transferase di hepar (AGT). Hal ini  akan mengakibatkan ekskresi oksalat, dan asam glikolok. Gambaran klinis  ditandai nephrokalcinosis, deposit oksalat dijaringan, dan gagal ginjal,  bila tidak diterapi pasien meninggal sebelum usia 20. B. Tipe II Sangat  jarang dan disebabkan defisiensi enzym D gliserate dehidrogenase dan  glikosilat reduktase yang menyebabkan peningkatan ekskresi oksalat dan  gfiserat urin. Kedua tipe ini menyebabkan pembentukan batu pada usia  muda, nefropati, dan gagal ginjal. Disamping terjadi juga peningkatan  oksalat urin dan serum. Hiperurikosuria. Smith dkk, menemukan adanya  peningkatan kadar urat pada pasien batu kalsium oksalat idiopatik. Usam  urat meningkatkan kristalisasi kalsium oksalat dengan memfasilitasi  pembentukan inti. Penambahan kristal asam urat pada larutan kalsium  oksalat, supersaturasi (Degamello dan Chou, 1984) menginduksi deposit  kristal kalsium oksalat pada asam urat. Baik kristal sodium hydrogen  urat maupun kristal asam urat dapat menginisiasi pembentukan kristal  kalsium oksalat. Hiperurikosuria ditemukan pada 24% batu kalsium.  Penyebab terjadinya hiperurikosuria masih tidak pasti, karena pada  pasien hiperurikosuri, jumlah sekresi urat tetap meningkat meskipun  dengan diet bebas urat. Hal ini, mungkin, karena produksi urat endogen.  Menurut Choe dan Kavalich (1974), intake purin yang berlebihan adalah  penyebab utama hiperurikosuria. Hipositraturia Hipositraturia ditemukan  pada 15 63% pasien dengan nefrolithiasis. Asidosis, mungkin merupakan  faktor terpenting sebagai penyebab hipositraturia, penyebab lainnya,  adalah diare kronik, pemakaian thiazide (menginduksi hipokalernia dan  asidosis intraseluler) dan idiopatik. Perningkatan resorpsi sitrat di  tubulus menyebabkan penurunan kadar sitrat di urin, bukan karena  absorpsi di usus yang menurun. Mekanisme primer kerja sitrat adalah,  pembentukan kompleks dengan kalsium sehingga dapat larut dalam urin.  Hipositraturi dikatakan sebagai faktor penting yang dapat dikoreksi pada  batu kalsium oksalat. Hipomagnesuria Banyak penelitian eksperimental  yang menunjang bahwa pemberian garam magnesium dapat mencegah penyakit  batu. Johansson menemukan hal yang lain, defisiensi magnesium dan balans  negatif magnesium tidak ditemukan pada pasien dengan batu. Lebih jauh  lagi, penyebab hipornagnesuria adalah penyakit peradangan usus yang  disertai malabsorpsi. Sebagian besar pasien dengan hipornagnesuria  diikuti dengan hipositraturia. Keadaan ini menyebabkan menurunnya  aktivitas inhibitor dan kompikso, sehingga memudahkan kristalisasi  kalsium oksalat. b. Batu kalsium fosfat Predominan terdiri dari kalsium  fosfat dan merupakan 10% batu ginjal. Batu kalsium fosfat murni, sangat  jarang ditemukan. Lebih sering sebagai komponen batu kalsium oksalat.  Lebih banyak terjadi pada wanita, seringkali berhubungan dengan defek  asidifikasi tubuler. Pada kasus batu kalsium oksalat, mandatoris untuk  dicari adanya Renal Tubular Acidosis (RTA). Batu kalsium fosfat, dapat  terjadi pada hiperparatiroidisme primer dan sarkoidosis. c. Batu asam  urat Batu ini kurang dari 5% sari seluruh batu ginjal. Insidens dari  batu asam urat tinggi pada penderita gout, dan pada penyakit  overproduksi dari purin seperti penyakit myeloproliferatif, glycogen  stroge disecse, malignasi. Pada penyakit diare kronik seperti Crohn’s  dan colitis ulseratif atau jejunoileal by pass dapat menyebabkan batu  asam urat, melalui kehilangan bikarbonat yang akan menurunkan pH atau  melalui berkurangnya produksi urin. Pengobatan dengan memelihara volume  urin hingga 21/hari, pH lebih dari 6, pengurangan diet purin dan  pemberian allupurinol membantu mengurangi ekskresi asam urat. Penyebab  utama terjadinya kristalisasi asam urat adalah supersaturasi dari urin  sehingga asam urat tidak terdisosiasi. Tidak diketallui zat apa yang  bersitat sebagai inhibitor untuk pembentukan batu asam urat. Pasien  dengan batu asam urat sering mengandung urin dengan keasaman dalam  jangka waktu yang panjang. Kelainan yang didapat pada pasien gout antara  lain sekresi amonium yang lebih sedikit dibanding orang normal sehingga  banyak sisa ion H yang bebas, produksi asam urat yang meningkat  disertai menurunnya kemampuan ekskresi oleh ginjal, dan akhirnya  berkurangnya produksi urin. Ada tiga faktor yang terlibat dalam  pembentukan batu urat, yaitu: 1. Ekskresi urat yang berlebihan  (&gt;1500mg/ hari) pada pH yang relatif rendah. 2. Absorbsi, produksi  dan ekskresi urat yang lebih dari normal. 3. Jumlah urin yang menurun.  Ketiga faktor ini adalah kombinasi ideal untuk terbentuknya kristalisasi  asam urat. d. Batu struvit (batu infeksi) Adalab jenis batu yang  pertama kali didapat pada manusia. Batu jenis ini merupakan 2 20% dari  insiden batu saluran kemih. Sering dijumpai pada wanita dan kambuh  dengan cepat. Batu ini terdiri dari magnesium, amonium dan fosfat yang  bercampur dengan karbonat. Sering muncul sebagai batu cetak (staghorn)  pada ginja dan jarang pada ureter. Batu ini adalah batu infeksi dari  kuman proteus, pseudomonas, providencia, klebsiela, staphilokokus,  mikoplasma dan lain lain. Benda asing dan neurogenik bladder mungkin  predisposisi penderita infeksi saluran kemih yang selanjutnya akan  terbentuk batu. Ada dua keadaan yang harus ada untuk terjadinya  kristalisasi dari batu struvit yaitu pH urin antara 6,8 8,3 (kebanyakan  diatas 7,2) dan adanya konsentrasi tinggi amonia dalam urin. Pembentukan  batu struvit didukung oleh adanya infiksi dalam urin oleh bakteri yang  memproduksi urease. Brown (1901) mengemukakan adanya amonia dalam urin,  alkalinisasi dan pembentukan batu. Mekanisme lain yang menginduksi  pembentukan batu adalah meningkatkan daya lekat kristai. Parson dkk  menunjukkan kerusakan glikosarninoglikan yang normal berada pada  permukaan mukosa oleh amonium. Penghilangan batu dapat dicoba dengan  irigasi hemiasidrin sedangkan pengobatan jangka panjang dapat  dioptimalkan dengan menghilangkan semua benda asin termasuk kateter.  Namun irigasi ini hanya digunakan bila infeksi dari saluran kemih sudah  terkontrol. e. Batu sistin Batu ini hanya 1% dari semua batu saluran  kemih dan terjadi hanya pada pasien dengan sistinuria. Sistinuria adalah  penyakit yang diturunkan secara resesif otosomal. Pada penyakit ini  terjadi defek transpur transepitelial yang menyebabkan gangguan absorbsi  sistin di usus dan tubulus proksimal. Batu sistin terbentuk karena  sistin sukar larut dalam keadaan pH urin yang normal dan ekskresi dari  ginjal yang berlebihan. Solubilitas dari sistin adalah pH dependen,  solubilitasnya akan rendah pada pH yang rendah dan sebaliknya. Diagnosis  dari sistinuria dicurigai bila onset dini dari batu ginjal, dan riwayat  keluarga, dan riwayat kambuh. Dari pemeriksaan urin didapatkan sodium  nitropruside yang positif. Kadar sistin di urin &gt; 250 mg/hari  sifatnya diagnostik. Terapi medik dengan intake cairan lebih dari 3  liter sehari. f. Batu Xantin Batu santin sangat jarang terjadi,  insidennya 1/2500 batu, merupakan kelainan konginital. Xantinuria yang  diturunkan menyebabkan pembentukan batu xantin, yang radiolusen dan  kadang menyerupai batu asam urat. Xantinuria adalah kelainan metabolisme  yang diturunkan secara resesif otonom dengan ciri defisiensi enzim  xantin oksidase. Oksidasi hipoxantin menjadi xantin dan kemudian  terhenti. Kadar urat rendah &lt; 1,5 mg/dl, sedangkan kadar xantin dan  hipoxantin pada serum dari urin meninght. Karena xantin lebih sulit  larut dari hipoxantin, maka batu xantin terbentuk. Pengobatan tergantung  gejala yang ditimbulkannya. Intake cairan yang tinggi dan alkalinisasi  urin diperlukan untuk profilaksis. g. Lain lain Batu silikat adalah batu  ginjal yang sangat jarang dan biasanya berhubungan dengan penggunaan  jangka panjang dari antasida yang mengandung silica, seperti produk yang  mengandung magnesium silikat. Terapi pembedahan saina dengan batu yang  lain. Batu triamteren akhir akhir ini frekuensinya meningkat berhubungan  dengan penggunaan anti hipertensi seperti dyazide. Penghentian  peggunaan obat akan mencegah rekurensi. D. GAMBARAN KLINIK DAN DIAGNOSIS  Gerakan peristaltik ureter yang mencoba mendorong batu ke distal akan  menyebabkan kontraksi yang kuat dan dirasakan sebagai nyeri hebat  (kolik). Nyeri ini dapat menjalar hingga ke perut bagian depan, perut  sebelah bawah, daerah inguinal, dan sampai ke daerah genetalia. Batu  yang terletak di sebelah distal ureter dirasakan oleh pasien sebagai  nyeri pada saat kencing atau sering kencing. Batu yang ukurannya kecil  (&lt;5 mm) pada umumnya dapat keluar spontan sedangkan yang lebih besar  seringkali tetap berada di ureter dan menyebabkan reaksi peradangan  (periureteritis) serta menimbulkan obstruksi kronik berupa  hidroureter/hidronefrosis. Diagnosis batu ureter dapat ditegakkan dengan  dilakukan foto polos abdomen (BNO), tetapi hanya untuk melihat adanya  batu radio-opak. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat  bersifat radio-opak dan paling sering dijumpai diantara batu jenis lain.  Sedangkan batu asam urat bersifat non opak (radio-lusen). Urutan  radiopasitas beberapa batu saluran kemih seperti pada tabel 1. Tabel1:  Urutan Radio-opasitas beberapa jenis batu saluran kemih JENIS BATU  RADIO-OPASITAS Kalsium Opak MAP Semiopak Urat/Sistin Non opak  Intravenous Pyelografi (IVP) dapat mendeteksi adanya batu semi-opak  ataupun batu non opak yang tidak dapat terlihat oleh foto polos abdomen.  IVP merupakan pemeriksaan terpilih dalam mendiagnosis batu ureter.  Ultrasonografi (USG) dikerjakan bila pasien tidak mungkin menjalani  pemeriksaan IVP, yaitu pada keadaan-keadaan: alergi terhadap bahan  kontras, faal ginjal yang menurun, dan pada wanita yang sedang hamil.  Adakalanya USG dapat mendeteksi batu pada ureterovesival junction yang  tidak terlihat pada helical CT atau IVP. Magnetic Resonance Imaging  (MRI), walaupun bukan merupakan perangkat diagnostik yang utama dalam  mendeteksi batu ureter, akan tetapi MRI merupakan pilihan yang tepat  untuk mengetahui batu ureter pada wanita hamil yang tidak terdiagnosis  dengan USG. Penelitian yang melibatkan 40 pasien dengan nyeri regio  flank akut, MRI mempunyai sensitifitas 54-58% dan spesifisitas 100 %.  Pemeriksaan sedimen urine menunjukkan adanya: leukosituria, hematuria,  dan dijumpai kristal-kristal pembentuk batu. Pemeriksaan kultur urine  mungkin menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea. Pemeriksaan  faal ginjal bertujuan untuk mencari kemungkinan terjadinya penurunan  fungsi ginjal dan untuk mempersiapkan pasien menjalani pemeriksaan IVP.  Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai faktor  penyebab timbulnya batu saluran kemih (antara lain kadar: kalsium,  oksalat, fosfat maupun urat didalam darah maupun dalam urine). E.  PENATALAKSANAAN Terapi pada batu ureter distal meliputi: 1. Konservatif  2. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) 3. Ureteroskopi (URS) 4.  Bedah terbuka Ad.1. Konservatif Batu ureter distal dengan diameter &lt;  4 mm akan mempunyai kemungkinan besar untuk dapat melewati ureter  secara spontan dan bila diameter &gt; 10 mm sangat tidak mungkin untuk  dapat melewati ureter. Pada suatu penelitian, batu ureter distal dengan  diameter 4-6 mm, 25% dapat melewati ureter secara spontan selama 2,8  minggu. Pada penelitian serial yang lain, batu dengan diameter 2-4 mm,  95% dapat melewati ureter secara spontan selama 40 hari, walaupun  tindakan observasi dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi saluran  kemih, hidronefrosis, dan mempengaruhi fungsi ginjal. Untuk itu, sangat  sulit untuk memilih kapan kita memilih terapi mini-invasif atau  observasi, khususnya bila pasien mengeluhkan beberapa gejala dan atau  batu dengan ukuran yang kecil. Saat ini, manfaat observasi (watchfull  waiting) diperluas dengan adanya gabungan terapi farmakologi yang dapat  mengurangi gejala dan keluarnya batu ureter secara spontan. Penelitian  Margaret S.Pearle (2003) melaporkan efektifitas alpha 1-adrenergic  antagonis (tamsulosin) pada penanganan batu ureter dengan diameter ?1cm  di juxtavesical junction. Francesco P, et all (2004) melaporkan  perbandingan penggunaan calcium antagonist (nifedipine 30 mg) slow  release dengan alpha 1-adrenergic antagonis (tamsulosin 0,4mg).  Masing-masing pasien mendapatkan kortikosteroid (deflazacort 30 mg) dan  200 µg mysoprostol. Hasilnya didapatkan 80% pasien yang mendapatkan  Nifedipine 30 mg melewati ureter secara spontan, dan 85% pada kelompok  yang mendapatkan tamsulosin 0,4 mg. • Kortikosteroid Golongan ini  merupakan anti inflamasi yang kuat yang dapat mengurangi inflamasi yang  terjadi di ureter. Kortikosteroid juga memiliki efek metabolik dan  imunosupresif. Kombinasi dengan nifedipin atau tamsulosin dapat  meningkatkan efek pasase batu ureter spontan. Golongan yang dipakai  adalah prednisolon (econopred, pediapred, delta-cortef, deflazacort).  Dosis dewasa adalah 25 mg peroral selama 5-10 hari. • Calcium Antagonis  (Calsium Channel Blockers) Mekanisme kerja golongan ini terhadap otot  polos adalah menghambat atau memperkecil masuknya ion kalsium kedalam  sel sehingga konsentrasi ion kalsium bebas intrasel akan berkurang. Hal  ini akan menyebabkan tonus otot menurun dan akan terjadi vasodilatasi.  Obat yang digunakan untuk penanganan batu ureter adalah nifedipin 30 mg  slow release selama 5-10 hari. Kombinasi dengan kortikosteroid akan  memperkuat efek relaksasi otot polos. Efek kalsium antagonis terhadap  penurun tekanan darah akan semakin besar jika tekanan darah awalnya  makin tinggi. Pada orang dengan tekanan darah normal, pada penggunaan  obat dengan dosis terapeutik, tekanan darah hampir tidak berubah. •  Alpha Adrenergic Blockers (? blockers) Mekanisme kerjanya adalah memblok  reseptor adrenergik (istilah dulu yaitu simpatolitika). Yang termasuk ?  blockers yaitu : 1. alkaloid secale 2. ?-reseptor bloker non selektif  3. ?1-reseptor bloker selektif 4. fenoksibenzamin yang bekerja non  kompetitif Golongan ? blockers yang dipakai dalam terapi batu ureter  adalah golongan ?1-reseptor bloker selektif, oleh karena senyawa ini  bekerja hampir sempurna hanya pada reseptor ?1 sehingga hanya menghambat  alpha adrenergic post sinaps yang akan mengakibatkan vasodilatasi otot  polos. Penggunaan bersamaan dengan kortikosteroid akan meningkatkan efek  relaksasi otot polos. Jenis obat yang dipakai adalah Tamsulosin 0,4 mg  peroral. Ad.2. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL) ESWL memakai  energi tinggi gelombang kejut yang dihasilkan oleh suatu sumber untuk  menghancurkan batu. Pecahan batu akan keluar dalam urine. Prosedur dapat  dilakukan tanpa anastesi, dengan analgetika, atau dengan anastesi umum  maupun regional. Efek samping terdiri dari hematuria ringan,  kadang-kadang nyeri kolik yang mudah diobati. Terapi ulangan bukanlah  suatu komplikasi. Pada setiap terapi dengan ESWL, terapi ulangan harus  sudah diantisipasi. Untuk batu ureter biasanya terapi ulangan lebih  banyak dilakuka daripada batu ginjal. Keberhasilan ESWL sebanding dengan  ukuran batu, dan biasanya tidak dipakai untuk batu yang ukurannya lebih  dari dua sentimeter. ESWL kurang efektif dan lebih mahal dibandingkan  dengan URS untuk pengobatan batu ureter distal.9,10 Gambar 3. Penggunaan  EWSL untuk memecah batu ureter Ad.3. Ureteroskopi (URS) Pada prosuder  ini suatu endoskopi semirigid atau fleksibel dimasukkan kedalam ureter  lewat buli-buli dibawah anastesi umum atau regional. Perkembangan di  bidang optic memungkinkan kita memakai ureteroskop yang semirigid,  sehingga alat ini relative lebih tahan lama daripada jenis lama yang  rigid. Ureteroskop yang fleksibel lebih mahal dan memerlukan biaya  pemeliharaan yang mahal pula,, tetapi dengan alat ini dapat dicapai batu  dalam kaliks ginjal dan dapat diambil atau dihancurkan dengan sarana  elektrohidraulik atau laser. Indikasi URS dan lithoclast sebagai berikut  : – Besar batu &gt;4mm sampai ? 15 mm – Ukuran batu ?4mm dilakukan bila  gagal dengan terapi konservatif, intractable pain dan pekerjaan yang  mempunyai resiko tinggi bila terjadi kolik. Setelah URS dapat  ditinggalkan double-J stent dan biasanya dipertahankan antara 2-6  minggu. Indikasi pemasangan DJ stent: – Laserasi dengan perdarahan –  Laserasi tanpa perdarahan – Striktur ureter – Batu di ginjal Ad.4.  Operasi Terbuka Sejak adanya URS dan ESWL untuk penanganan batu uter  distal, operasi terbuka bukan merupakan pilihan yang utama lagi. Operasi  terbuka dilakukan pada batu ureter dimana terjadi stenosis pada ureter  atau malrotasi ureter sehingga pada keadaan ini diperlukan operasi  rekonstruktif. Saat ini, operasi terbuka menjali pilihan terapi untuk  memperbaiki komplikasi atau sekuele dari tindakan prosedur endourologi  yang tidak dapat diatasi dengan pemasangan stent. Tabel 1. Estimasi  hasil terapi pada batu ureter distal H a s i l SWL URS PNL Operasi  terbuka Kemungkinan bebas batu dengan ukuran ?1 cm 85% 89% Tidak ada  data 90% Kemungkinan bebas batu dengan ukuran &gt;1 cm 74% 73% Tidak ada  data 84% Kemungkinan untuk timbul komplikasi akut (mis: kematian,  kehilangan ginjal dan transfusi darah) 4% 9% Tidak ada data Tidak ada  data Kemungkinan untuk membutuhkan tindakan intervensi sekunder 10% 7%  Tidak ada data 18% Komplikasi jangka panjang (mis:striktur ureter</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dokterugm.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dokterugm.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dokterugm.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dokterugm.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dokterugm.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dokterugm.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dokterugm.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dokterugm.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dokterugm.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dokterugm.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dokterugm.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dokterugm.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dokterugm.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dokterugm.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=62&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dokterugm.wordpress.com/2010/06/10/batu-ureter-distal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dacfba4102c900ab4c36cc21be63a6e5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dokterugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Batu Staghorn atau Batu Tanduk Rusa atau Batu Cetak Ginjal</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com/2010/06/03/batu-staghorn-atau-batu-tanduk-rusa-atau-batu-cetak-ginjal/</link>
		<comments>http://dokterugm.wordpress.com/2010/06/03/batu-staghorn-atau-batu-tanduk-rusa-atau-batu-cetak-ginjal/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Jun 2010 00:49:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dokterugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Urology]]></category>
		<category><![CDATA[batu]]></category>
		<category><![CDATA[cetak]]></category>
		<category><![CDATA[ginjal]]></category>
		<category><![CDATA[kaliks]]></category>
		<category><![CDATA[nefrolithiasis]]></category>
		<category><![CDATA[nefrolitiasis]]></category>
		<category><![CDATA[pyelum]]></category>
		<category><![CDATA[rusa]]></category>
		<category><![CDATA[staghorn]]></category>
		<category><![CDATA[tanduk]]></category>
		<category><![CDATA[ureter]]></category>
		<category><![CDATA[ureterolithiasis]]></category>
		<category><![CDATA[urolithiasis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dokterugm.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Belum ada kesepakatan mengenai definisi batu cetak/ staghorn ginjal. Definisi yang sering dipakai adalah batu ginjal yang menempati lebih dari satu collecting system, yaitu batu pielum yang berekstensi ke satu atau lebih kaliks. Istilah batu cetak/ staghorn parsial digunakan jika batu menempati sebagian cabang collecting system, sedangkan istilah batu cetak/staghorn komplit digunakan batu jika menempati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=56&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Belum ada kesepakatan mengenai definisi batu cetak/ staghorn ginjal.  Definisi yang sering dipakai adalah batu ginjal yang menempati lebih  dari satu collecting system, yaitu batu pielum yang berekstensi ke satu  atau lebih kaliks. Istilah batu cetak/ staghorn parsial digunakan jika  batu menempati sebagian cabang collecting system, sedangkan istilah batu  cetak/staghorn komplit digunakan batu jika menempati seluruh collecting  system.<span id="more-56"></span> Komposisi tersering batu cetak ginjal adalah kombinasi  magnesium amonium fosfat (struvit) dan/ atau kalsium karbonat apatit.  Komposisi lain dapat berupa sistin dan asam urat, sedangkan kalsium  oksalat dan batu fosfat jarang dijumpai. Komposisi struvite/ kalsium  karbonat apatit erat berkaitan dengan infeksi traktus urinarius yang  disebabkan oleh organisme spesifik yang memproduksi enzim urease yang  menghasilkan amonia dan hidroksida dari urea. Akibatnya, lingkungan urin  menjadi alkali dan mengandung konsentrasi amonia yang tinggi,  menyebabkan kristalisasi magnesium amonium fosfat (struvit) sehingga  menyebabkan batu besar dan bercabang. Faktor-faktor lain turut berperan,  termasuk pembentukan biofilm eksopolisakarida dan penggabungan  mukoprotein dan senyawa organik menjadi matriks. Kultur dari fragmen di  permukaan dan di dalam batu menunjukkan bakteri tinggal di dalam batu,  sesuatu yang tidak dijumpai pada jenis batu lainnya. Terjadi infeksi  saluran kemih berulang oleh organisme pemecah urea selama batu masih  ada.1 Batu cetak ginjal yang tidak ditangani akan mengakibatkan  kerusakan ginjal dan atau sepsis yang dapat mengancam jiwa. Karena itu,  pengangkatan seluruh batu merupakan tujuan utama untuk mengeradikasi  organisme penyebab, mengatasi obstruksi, mencegah pertumbuhan batu lebih  lanjut dan infeksi yang menyertainya serta preservasi fungsi ginjal.  Meski beberapa penelitian menunjukkan kemungkinan untuk mensterilkan  fragmen struvite sisa dan membatasi aktivitas pertumbuhan batu, sebagian  besar penelitian mengindikasikan, fragmen batu sisa dapat tumbuh dan  menjadi sumber infeksi traktus urinarius yang berulang.1 Modalitas  terapi untuk batu cetak ginjal adalah: 1. PNL monoterapi 2. Kombinasi  PNL dan ESWL 3. ESWL monoterapi 4. Operasi terbuka 5. Kombinasi operasi  terbuka dan ESWL 2. Analisis Keluaran Jika tidak diterapi, batu cetak  ginjal terbukti akan menyebabkan kerusakan ginjal. Pasien dapat  mengalami infeksi saluran kemih berulang, sepsis dan nyeri. Selain itu,  batu akan mengakibatkan kematian. Terapi nonbedah, seperti terapi  antibiotik, inhibitor urease, dan terapi suportif lainnya, bukan  merupakan alternatif terapi kecuali pada pasien yang tidak dapat  menjalani prosedur tindakan pengangkatan batu. Pada analisis  retrospektif 200 pasien dengan batu cetak ginjal yang menjalani terapi  konservatif, 28% mengalami gangguan fungsi ginjal. a. Stone Free Rate  Secara keseluruhan, stone free rate setelah terapi paling tinggi pada  PNL (78%) dan paling rendah pada SWL (54%). Pada terapi kombinasi (PNL  dan SWL), stone free rate lebih rendah jika SWL dilakukan terakhir (66%)  dan dapat menjadi 81% jika dilakukan PNL-ESWL-PNL. Pada operasi  terbuka, stone free rate berkisar antara 71%-82%. Angka ini lebih rendah  jika batunya lebih kompleks.1,22-24 Sumber: AUA Guidelines 2005 Stone  free rate juga dihubungkan dengan klasifikasi batu cetak (parsial atau  komplit). Pada batu cetak parsial, angka stone free rate lebih tinggi  dibandingkan batu cetak komplit. Pada PNL, stone free rate batu cetak  parsial 74% dibandingkan 65% pada batu cetak komplit.1,22 b. Jumlah  Prosedur Pada pedoman American Urological Association (AUA) tahun 2004,  PNL membutuhkan total rata-rata 1,9 prosedur, ESWL 3,6 prosedur dan  terapi kombinasi membutuhkan 3,3 prosedur untuk penatalaksanaan batu  cetak ginjal. Operasi terbuka membutuhkan total 1,4 prosedur. Jumlah  prosedur juga berkaitan dengan klasifikasi batu cetak (parsial atau  total). Pasien batu cetak parsial menjalani 2,1 prosedur dibandingkan  3,7 prosedur pada pasien batu cetak komplit.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dokterugm.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dokterugm.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dokterugm.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dokterugm.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dokterugm.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dokterugm.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dokterugm.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dokterugm.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dokterugm.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dokterugm.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dokterugm.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dokterugm.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dokterugm.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dokterugm.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=56&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dokterugm.wordpress.com/2010/06/03/batu-staghorn-atau-batu-tanduk-rusa-atau-batu-cetak-ginjal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dacfba4102c900ab4c36cc21be63a6e5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dokterugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Undescencus Testiculorum atau Undescencus Testis atau Undescended Testicle atau Sanglir</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/28/undescencus-testiculorum-atau-undescencus-testis-atau-undescended-testicle-atau-sanglir/</link>
		<comments>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/28/undescencus-testiculorum-atau-undescencus-testis-atau-undescended-testicle-atau-sanglir/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 28 May 2010 00:45:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dokterugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Urology]]></category>
		<category><![CDATA[buah pelir]]></category>
		<category><![CDATA[cryptorchismus]]></category>
		<category><![CDATA[kriptorkismus]]></category>
		<category><![CDATA[sanglir]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<category><![CDATA[undecensus testis]]></category>
		<category><![CDATA[undesensus testis]]></category>
		<category><![CDATA[zakar tunggal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dokterugm.wordpress.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Ketika skrotum anak tidak dijumpai testis, orang tuanya akan dihantui kebimbangan tentang kelelakian anaknya. Dokter akan berpikir sekitar kanker testis, dan yang paling penting lagi anak akan malu dan cemas dalam pergaulan. Pemahaman masalah kriptorkismus secara holistik akan membimbing dokter , orang tua dan anak dalam menyikapi kelainan yang ada. Dokter akan memberikan pelayanan yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=54&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Ketika skrotum anak tidak dijumpai testis, orang tuanya akan dihantui  kebimbangan tentang kelelakian anaknya. Dokter akan berpikir sekitar  kanker testis, dan yang paling penting lagi anak akan malu dan cemas  dalam pergaulan. Pemahaman masalah kriptorkismus secara holistik akan  membimbing dokter<sup> </sup>, orang tua dan anak dalam menyikapi  kelainan yang ada. <span id="more-54"></span>Dokter akan memberikan pelayanan yang optimal  ditengah kontroversi penanganan yang masih berlangsung. Orang tua akan  memahami kondisi anak dan kemungkinan yang dapat terjadi di kelak hari,  sehingga anak akan mendapat penerimaan kondisi kelainan oleh lingkungan  pergaulannya, sehingga psikologi anak tidak terganggu, juga mendapat  penanganan medis yang adekuat. Dalam menangani kriptorkismus, dokter  tidak hanya memperbaiki anatomi saja, tetapi juga memperhatikan faktor  psikologis / emosional baik pada anak maupun orang tuanya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Embriologi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ketika mesonepros mengalami degenerasi, suatu ligamen yang disebut <em>gubernakulum</em> akan turun pada masing-masing sisi abdomen dari pole bawah gonal  melintas oblik pada dinding abdomen (yang kelak menjadi kanalis  inguinalis) dan melekat pada <strong><em>labioscrotal swelling</em></strong> ( yang kelak menjadi skrotum atau labia majora). Kemudian kantong  peritoneum yang disebut <strong><em>processus vaginalis</em></strong> berkembang pada masing-masing sisi ventral gubernakulum dan mengalami  herniasi melalui dinding abdomen bawah sepanjang jalur yang dibentuk  oleh gubernakulum. Masing-masing processua vaginalis  membawa perluasan  dari lapisan pembentuk dinding abdomen, bersama-sama membentuk funikulus  spermatikus. Lubang yang ditembus oleh processus vaginalis pada fascia  transversalis menjadi anulus inguinalis internus, sedang lubang pada  aponeurosis m. obliquus abdominis externus membentuk anulus inguinalis  eksternus.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekitar minggu ke-28 intrauterine, testis turun dari dinding  posterior abdomen menuju anulus inguinalis internus. Perubahan ini  terjadi akibat pembesaran ukuran pelvis dan pemanjangan ukuran tubuh,  karena gubernakulum  tumbuh tidak sesuai proporsinya, mengakibatkan  testis berubah posisi, jadi penurunannya adalah proporsi relatif  terhadap pertumbuhan dinding abdomen. Peranan gubernakulum pada awalnya  adalah membentuk jalan untuk processus vaginalis selama pembentukan  kanalis inguinalis, kemudian gubernakulum juga sebagai jangkar/ pengikat  testis ke skrotum<sup>. </sup> Massa gubernakulum yang besar akan  mendilatasi jalan testis, kontraksi, involusi, dan traksi serta fiksasi  pada skrotum akan menempatkan testis dalam kantong skrotum. Ketika tesis  telah berada di kantong skrotum gubernakulum akan diresorbbsi  (Backhouse, 1966) Umumnya dipercaya bahwa gubenakulum tidak menarik  testis ke skrotum. Perjalanan testis melalui kanalis inguinalis dibantu  oleh peningkatan tekanan intra abdomen akibat dari pertumbuhan viscera  abdomen.</p>
<p style="text-align:justify;">Mekanisme yang berperan dalam proses turunnya testis belum sepenuhnya  dimengerti, dibuktikan untuk turunnya testis ke skrotum memerlukan aksi  androgen yang memerlukan <em>aksis hipotolamus-hipofise-testis </em>yang  normal. Mekanisme aksi androgen untuk merangsang turunnya testis tidak  diketahui, tetapi diduga organ sasaran androgen kemungkinan  gubernakulum, suatu pita fibromuskuler yang membentang dari pole bawah  testis ke bagian bawah dinding skrotum yang pada minggu-minggu terakhir  intrauterin akan berkontraksi dan menarik testis ke skrotum. Posisi  testis saat turun berada di posterior processus vaginalis  (retroperitoneal) sekitar 4 minggu kemudian (umur 32 minggu) testis  masuk skrotum. Ketika turun, testis membawa serta duktus deferens dan  vasanya sehingga ketika testis turun, mereka terbungkus oleh perluasan  dinding abdomen. Perluasan fascia transversalis membentuk fascia  spermatica interna, m. obliqus abdominal membentuk fascia kremaster dan  musculus kremaster dan apponeurosis m. obliqus abdomenus eksternal  membentuk fascia spermatica externus di dalam skrotum. Masuknya testis  di skrotum di ikuti dengan kontraksi kanalis inguinalis yang  menyelubungi funikulus spermatikus. Selama periode perinatal processus  vaginalis mengalami obliterasi, mengisolasi suatu tunica vaginalis yang  membentuk suatu kantong yang menutupi testis.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada umumnya testis turun  pada skrotum secara sempurna pada akhir  tahun pertama. Kegagalan testis turun tetapi masih pada jalur normalnya  disebut UDT. Testis dapat berada sepanjang jalur penurunan.  ( Gb IA )   Kadang setelah melewati canalis inguinalis testis menyimpang dari jalur  yang seharusnya, dan menempati lokasi abnormal. Hal ini disebut <strong><em>testis  ektopik</em></strong>. Testis bisa terletak di interstitial  (superfisial dari m. obliquus abdominis externus) di paha sisi medial,  dorsal penis atau kontralateralnya. Diduga disebabkan oleh bagian  gubernakulum yang melewati lokasi abnormal, dan testis kemudian  mengikutinya. (Lihat gambar 1B) .</p>
<h1 style="text-align:justify;">
<table cellspacing="0" cellpadding="0" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="25" height="9"></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td width="481" height="246" bgcolor="white">
<table cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</h1>
<p style="text-align:justify;">Gbr. 1A. UDT                      Gbr. 1B. Testis Ektopik</p>
<p style="text-align:justify;">Kriptorkismus berasal dari kata <em>cryptos</em> (Yunani) yang  berarti tersembunyi dan <sup> </sup><em>orchis</em> (latin) yang berarti  testis. <strong><em>Nama lain dari kriptorkismus adalah undescended  testis,</em></strong> tetapi harus dijelaskan lanjut apakah yang di  maksud kriptorkismus murni, testis ektopik, atau pseudokriptorkismus.  Kriptorkismus murni adalah suatu keadaan dimana setelah usia satu tahun,  satu atau dua testis tidak berada didalam kantong skrotum, tetapi  berada di salah satu tempat sepanjang jalur penurunan testis yang  normal. Sedang bila diluar jalur normal disebut <em>testis ektopik</em>,  dan yang terletak di jalur normal tetapi tidak didalam skrotum dan  dapat didorong masuk ke skrotum serta naik lagi bila dilepaskan disebut <em>pseudokritorkismus </em>atau <em>testis retraktil</em><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Epidemiologi </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Besar insidensi UDT berbeda pada tiap-tiap umur. Bayi baru lahir (3 –  6%), satu bulan (1,8%), 3 bulan (1,5%), Satu tahun (0,5 – 0,8%). Bayi  lahir cukup bulan 3% diantaranya kriptorkismus, sedang lahir kurang  bulan sekitar 33% . Pada berat badan bayi lahir (BBL) dibawah 2000 gram  insidensi UDT 7,7% BBL 2000-2500 (2,5%), dan BBL diatas 2500 (1,41%)  Insidensi kriptorkismus unilateral lebih tinggi dibanding kriptorkismus  bilateral. Sedang insidensi sisi kiri lebih besar (kiri 52,1% vs kanan  47,9%).<sup> </sup>Di Inggris, insidensinya meningkat lebih dari 50%  pada kurun waktu 1965 – 1985. di FKUI – RSUPCM kurun waktu 1987 – 1993  terdapat 82 anak kriptorkismus, sedang di FKUSU – RSUP. Adam Malik Medan  kurun waktu 1994 – 1999 terdapat 15 kasus.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Etiologi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penyebab  pasti kriptorkismus belum jelas. Beberapa hal  yang  berhubungan adalah</p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>A. </strong><strong>Abnormalitas gubernakulum testis</strong></h4>
<p style="text-align:justify;">Penurunan testis dipandu oleh gubernakulum. Massa gubernakulum yang  besar akan mendilatasi jalan testis, kontraksi, involusi, dan traksi  serta fiksasi pada skrotum akan menempatkan testis dalam kantong  skrotum. Ketika tesis telah berada di kantong skrotum gubernakulum akan  diresorbsi (Backhouse, 1966) Bila struktur ini tidak terbentuk atau  terbentuk abnormal akan menyebabkan maldesensus testis.</p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>B. </strong><strong>Defek intrinsik testis</strong></h4>
<p style="text-align:justify;">Maldesensus dapat disebabkan disgenesis gonadal dimana kelainan ini  membuat testis tidak sensitif terhadap hormon gonadotropin. Teori ini  merupakan penjelasan terbaik pada kasus kriptorkismus unilateral. Juga  untuk menerangkan mengapa pada pasien dengan kriptorkismus bilateral  menjadi steril ketika diberikan terapi definitif pada umur yang optimum.  Banyak kasus kriptorkismus yang secara histologis normal saat lahir,  tetapi testisnya menjadi atrofi / disgenesis pada akhir usia 1 tahun dan  jumlah sel germinalnya sangat berkurang pada akhir usia 2 tahun.</p>
<h4 style="text-align:justify;"><strong>C.</strong><strong>Defisiensi stimulasi hormonal / endokrin</strong></h4>
<p style="text-align:justify;">Hormon gonadotropin maternal yang inadequat menyebabkan desensus  inkomplet. Hal ini memperjelas kasus kriptorkismus bilateral pada bayi  prematur ketika perkembangan gonadotropin maternal tetap dalam kadar  rendah sampai 2 minggu terakhir kehamilan. Tetapi teori ini sulit  diterapkan pada kriptorkismus unilateral.  Tingginya kriptorkismus pada  prematur diduga terjadi karena tidak adequatnya HCG menstimulasi  pelepasan testosteron masa fetus akibat dari imaturnya sel Leydig dan  imaturnya aksis hipothalamus-hipofisis-testis. Dilaporkan suatu  percobaan menunjukkan desensus testis tidak terjadi pada mamalia yang  hipofisenya telah diangkat .</p>
<p style="text-align:justify;">Rasfer et al (1986) memperlihatkan penurunan testis dimediasi oleh  androgen yang diatur lebih tinggi oleh gonadotropin pituitary. Proses  ini memicu kadar dihidrotestotsteron yang cukup tinggi, dengan hasil  testis mempunyai akses yang bebas ke skrotum . Toppari &amp; Kaleva  menyebut defek dari aksis hipotalamus-pituitary-gonadal akan  mempengaruhi turunnya testis. Hormon utama yang mengatur testis adalah  LH dan FSH yang doproduksi oleh sel basofilik di pituitary anterior yang  diatur oleh LHRH. FSH akan mempengaruhi mempengaruhi sel sertoli,  epitel tubulus seminiferus. Kadar FSH naik pada kelainan testis</p>
<p style="text-align:justify;">Kriptorkismus yang disertai defisiensi gonadotropin dan adrenal  hipoplasia kongenital mungkin berhubungan dengan sifat herediter. Corbus  dan O’Connor, Perreh dan O’Rourke melaporkan beberapa generasi  kriptorkismus dalam satu keluarga<sup>2</sup>. Juga ada penelitian yang  menunjukkan tak aktifnya hormon <em>Insulin Like Factor 3</em> ( Insl3)  sangat mempengaruhi desensus testis . Insl3 diperlukan untuk  diferensiasi dan proliferasi gubernakulum. Faktor lain yang diduga  berperan ialah berkurangnya <em>stimulating substances</em> yang  diproduksi oleh nervus genitofemoralis</p>
<h5 style="text-align:justify;">Faktor  Resiko</h5>
<p style="text-align:justify;">Karena penyebab pasti kriptorkismus tidak jelas, maka kita hanya  dapat mendeteksi faktor resikonya. Antara lain :</p>
<p style="text-align:justify;">1. BBLR (kurang 2500 mg)</p>
<p style="text-align:justify;">2. Ibu yang terpapar estrogen selama trimester pertama</p>
<p style="text-align:justify;">3. Kelahiran ganda (kembar 2, kembar 3)</p>
<p style="text-align:justify;">4. Lahir prematur (umur kehamilan kurang 37 minggu)</p>
<p style="text-align:justify;">5. Berat janin yang dibawah umur kehamilan.</p>
<p style="text-align:justify;">6. Mempunyai ayah atau saudara dengan riwayat UDT</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PATOGENESIS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Skrotum adalah regulator suhu yang efektif untuk testis, dimana suhu  dipertahankan sekitat 1 derajat Celsius (1,8 derajat Fahrenheit) lebih  dingin dibanding <em>core body temperature</em>. Sel spermatogenesis  sangat sensitif terhadap temperatur badan. Mininberg, Rodger dan Bedford  (1982) mempelajari ultrastruktur kriptorkismus dan mendapatkan  perubahan pada kurun satu tahun kehidupan. Pada umur 4 tahun didapatkan  deposit kolagen masif. Kesimpulan mereka adalah testis harus di skrotum  pada umur 1 tahun</p>
<p style="text-align:justify;">Penelitian biopsi testis kriptorkismus menunjukkan bukti yang  mengagetkan dimana epitel germinativum dalam testis tetap dalam ukuran  normal untuk 2 tahun pertama kehidupan. Sementara umur 4 tahun terdapat  penurunan spermatogonia sekitar 75 % sehingga menjadi subfertil /  infertil</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah umur 6 tahun tampak perubahan nyata. Diameter tubulus  seminiferus mengecil, jumlah spermatogonia menurun, dan tampak nyata  fibrosis di antara tubulus testis. Pada kriptorkismus pascapubertas  mungkin testis berukuran normal, tetapi ada defisiensi yang nyata pada  komponen spermatogenik sehingga pasien menjadi infertil . Untungnya sel  leydig tidak dipengaruhi oleh suhu tubuh dan biasanya ditemukan dalam  jumlah normal pada kriptorkismus. Sehingga impotensi karena faktor  endokrin jarang terjadi pada kriptorkismus  Penelitian dengan biopsi  jaringan testis yang mengalami kriptorkismus menunjukkan tidak terjadi  abnormalitas kromosom. Maldescensus dan degenerasi maligna tidak dapat  disebabkan karena defek genetik pada testis yang mengalami UDT</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Klasifikasi </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kriptorkismus dapat diklasifikasikan berdasar etiopatogenesis dan  lokasi. Berdasar etiopatogenesis kriptorkismus dapat dibagi menjadi :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Mekanik/anatomik : perlekatan, kelainan kanalis inguinalis</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Endokrin/hormonal: kelainan aksis hipotalamus-hipofise-testis</li>
<li>Disgenesis   : kelainan interseks multipel</li>
<li>Herediter/genetik</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>Berdasarkan lokasi :</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Skrotum tinggi (supraskrotal) : 40%</li>
<li>Intrakanalikuli (inguinal)    : 20 %</li>
<li>Intraabdominal (abdomen)          : 10 %</li>
<li>Terobstruksi                    : 30%</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Ada juga yang membagi lokasi sebagai berikut : (1) intraabdominal   (2) Inguinal (3) Preskrotal   (4) Skrotal  (5). Retraktil</p>
<p style="text-align:justify;">Major , 1974  membagi kriptorkismus (dalam pengertian umum) membagi  menjadi</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>Retensio Testis (dystopy of testicle) </em></strong><strong><em>à</em></strong><strong><em> </em></strong>Diklasifikasikan sesuai tempatnya
<ol>
<li><em>a. </em><em>Abdominal testicle (retensi abdominal)</em>
<ol>
<li><em>Canalicular testicle ( retensio canalicularis superior et  inferior</em> ): testis benar-benar tak teraba</li>
<li><em>Inguinal testicle ( retensio inguinalis)</em> : testis teraba di  depan anulus inguinalis eksternus</li>
<li><em>Testis reflexus (superfisial inguinal ectopy)</em>: bentuk  paling umum. Testis sebenarnya tidak melenceng dari alur normal.  Gubernakulum memandu testis menuju bagian bawah skrotum. Testis hanya  bertempat di anterior aponeurosis muskulus obliquus abdominis eksternus  dan sesungguhnya ini bukan suatu testis ektopik</li>
</ol>
</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>2. </em></strong><strong><em>The True Ectopic Testis</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di sini testis melewati canalis inguinalis tetapi kemudian menempati  daerah perineum, suprapubic dorsal pangkal penis, bawah kulit pangkal  femur sisi medial.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>3. </em></strong><strong><em>The Floating Testicle</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada anak-anak kontraksi muskulus kremaster dapat mengangkat testis  dari posisis normal menuju kanalis inguinalis. Refleks ini dipicu oleh  rangsang dingin atau sentuhan. Jangan keliru menganggap posisi ini  dengan retensi testis. Tipe ini dibagi menjadi :</p>
<p style="text-align:justify;"><em>a. </em><em>The Slidding Testicle ( Uper retractile type)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Testis dapat teraba dengan baikdari midskrotum ke atas sampai di  depan aponeurosis muskulus obliquus abdominis eksternus di atas anulus  inguinalis eksternus.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>b. </em><em>The Pendulant testicle (Lower Retractile Type)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Testis bergerak bolak-balik antar bagian terbawah skrotum dan anulus  inguinalis eksternus.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Diagnosis </strong></p>
<h2 style="text-align:justify;"><strong><em>Anamnesis</em></strong></h2>
<p style="text-align:justify;">Diagnosis UDT dapat dibuat oleh orangtua anak atau dokter pemeriksa  pertama. Umumnya diawali orangtua membawa anak ke dokter dengan keluhan  skrotum anaknya kecil. Dan bila disertai dengan hernia inguinalis akan  dijumpai pembengkakan atau nyeri berulang pada skrotum.  Anamnesis  ditanyakan :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Pernahkah testis diperiksa, diraba sebelumnya di skrotum.</li>
<li>Ada tidaknya kelainan kongenital yang lain, seperti hipospadia,  interseks,       prunne belly syndroma, dan kelainan endokrin lain</li>
<li>Ada tidaknya riwayat UDT dalam keluarga</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Tanda kardinal UDT ialah tidak adanya satu atau dua testis dalam  skrotum. Pasien dapat mengeluh nyeri testis karena trauma, misal testis  terletak di atas simpisis ossis pubis. Pada dewasa keluhan UDT sering  dihubungkan dengan infertilitas</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Pemeriksaan Fisik</em></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>1. </strong><strong> Penentuan lokasi testis</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Beberapa posisi anak saat diperiksa <strong>: <em>supine, squatting,  sitting</em></strong><em> .</em> Pemeriksaan testis harus dilakukan  dengan tangan hangat. Pada posisi duduk dengan tungkai dilipat atau  keadaan relaks pada posisi tidur. Kemudian testis diraba dari inguinal  ke arah skrotum dengan cara <em>milking</em>. Bisa juga dengan satu  tangan di skrotum sedangkan tangan yang lain memeriksa mulai dari daerah  spina iliaka anterior superior  menyusuri inguinal sampai kantong  skrotum. Hal ini mencegah testis retraksi karena pada anak refleks  muskulus kremaster cukup aktif yang menyebabkan testis bergerak ke atas /  retraktil sehingga menyulitkan penilaian.<sup> </sup></p>
<p style="text-align:justify;">Penentuan posisi anatomis testis sangat penting sebelum terapi karena  berhubungan dengan keberhasilan terapi. Testis retraksi tidak perlu  terapi. Testis yang retraktil sudah turun saat lahir, tetapi pada  pemeriksaan tidak ditemukan di dalam skrotum kecuali anak relaks.</p>
<table style="text-align:justify;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="69%">
<tbody>
<tr>
<td width="38%"></td>
<td width="61%"></td>
</tr>
<tr>
<td width="38%"></td>
<td width="61%"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. </strong><strong>Penentuan apakah testis palpabel</strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Testis teraba</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Bila testis palpable beberapa kemungkinan antara lain : (1) testis  retraktil  (2) UDT  (3) Testis ektopik  (4). <em>Ascending Testis  Syndroma</em> .   Ascending Testis Syndroma ialah testis dalam skrotum  /retraktil, tetapi menjadi lebih tinggi karena pendeknya funikulus  spermatikus. Biasanya baru diketahui pada usia 8 -10 tahun. Bila testis  teraba maka tentukan posisi, ukuran, dan konsistensi. Bandingkan dengan  testis kontralateralnya.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Bila impalpable testis</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Kemungkinannya ialah : (1) intrakanalikuler, (2) intraabdominal,  (3)  Atrofi testis , (4) Agenesis. Kadang di dalam skrotum terasa massa  seperti testis atrofi. Jaringan ini biasanya gubernakulum atau  epididimis dan vas deferens yang bisa bersamaan dengan testis  intraabdominal.  Impalpable testis biasanya disertai hernia inguinal.  Pada bilateral impalpable testis sering berkaitan dengan anomali lain  seperti interseksual, prone belly syndrome</p>
<p style="text-align:justify;">Berikut bagan kemungkinan  abnormalitas testis :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pemeriksaan Penunjang</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dilakukan bila testis impalpable atau meragukan beberapa modalitas  penunjang diperlukan.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ultrasonografi (USG)</li>
<li>Merupakan modalitas pertama dalam menegakkan kriptorkismus.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">————————————————————————————à  Alasan  :</p>
<p style="text-align:justify;">a.  Sekitar 72% kriptorkismus terletak intrakanalikuler sehingga  aksesibilitas USG cukup baik</p>
<p style="text-align:justify;">b.         Non invasif</p>
<p style="text-align:justify;">c.         Mudah didapat</p>
<p style="text-align:justify;">d.         Praktis/mudah dijadwalkan</p>
<p style="text-align:justify;">e.         Murah</p>
<p style="text-align:justify;">Pada USG testis prepubertas mempunyai gambaran ekhogenitas derajat  ringan sampai sedang, dan testis dewasa ekhogenitas derajat sedang.</p>
<p style="text-align:justify;">USG hanya efektif untuk mendeteksi testis di kanalis inguinalis ke  superfisial, dan tidak dapat mendeteksi testis di intraabdominal <sup>8</sup> Di luar negeri keberhasilannya cukup tinggi (60-65%), sementara FKUI  hanya 5,9%<sup>3</sup>. Hal ini dipengaruhi oleh pengalaman operator.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>CT Scan</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Merupakan modalitas kedua setelah USG. CT Scan dapat mendeteksi  testis intraabdominal. Akurasi CT Scan sama baiknya dengan USG pada  testis letak inguinal. Sedang testis letak intraabdominal CT Scan lebih  unggul ( CT Scan 96% vs USG 91%). False positif / negatif biasanya  akibat pembesaran limfonodi. Dapat dibedakan dengan testis karena adanya  lemak di sekeliling limfonodi.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>MRI</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dapat mendeteksi degenerasi maligna pada kriptorkismus. Kelemahannya  loop usus dan limfonodi dapat menyerupai kriptorkismus</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Angiografi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Akurat tetapi invasif sehingga tidak disukai. Venografi Gadolium  dengan MRI lebih akurat dibanding MRI tunggal</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penanganan </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan dari penanganan UDT adalah :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Meningkatkan vertilitas</li>
<li>Mencegah torsio testis</li>
<li>Mengurangi resiko cidera khususnya bila testis terletak di  tuberkulum pubik</li>
<li>Mengkoreksi kelainan lain yang menyertai, seperti hernia</li>
<li>Mencegah / deteksi awal dari keganasan testis</li>
<li>Membentuk body image</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Terapi  non Bedah</p>
<p style="text-align:justify;">Berupa terapi hormonal. Terapi ini dipilih untuk UDT bilateral  palpabel inguinal. Tidak diberikan pada UDT unilateral letak tinggi atau  intraabdomen. Efek terapi berupa peningkatan rugositas skrotum, ukuran  testis, vas deferens, memperbaiki suplay darah, dan diduga meningkatkan  ukuran dan panjang vasa funikulus spermatikus, serta menimbulkan efek  kontraksi otot polos gubernakulum untuk membantu turunnya testis.  Dianjurkan sebelum anak usia 2 tahun , sebaiknya bulan 10 – 24. Di FKUI  terapi setelah usia 9 bulan karena hampir tidak dapat lagi terjadi  penurunan spontan.</p>
<p style="text-align:justify;">Hormon yang diberikan :</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>a. </em></strong><strong><em>HCG</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hormon ini akan merangsang sel Leydig menproduksi testosteron. Dosis :  Menurut Mosier (1984) : 1000 – 4000 IU, 3 kali seminggu selama 3  minggu. Garagorri (1982) : 500 -1500 IU, intramuskuler, 9 kali selang  sehari. Ahli lain memberikan 3300 IU, 3 kali selang sehari untuk UDT  unilateral dan 500 IU  20 kali dengan  3 kali seminggu. Injeksi HCH  tidak boleh diberikan tiap hari untuk mencegah desensitisasi sel Leydig  terhadap HCG yang akan menyebabkan <em>steroidogenic refractoriness. </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">Hindari dosis tinggi karena menyebabkan efek refrakter testis  terhadap HCG, udem interstisial testis, gangguan tubulus dan efek toksis  testis. Kadar testosteron diperiksa pre dan post unjeksi, bila belum  ada respon dapat diulang 6 bulan berikutnya. Kontraindikasi HCG ialah   UDT dengan hernia, pasca operasi hernia, orchydopexy, dan testis  ektopik.  Miller (16) memberikan HCG pada pasien sekaligus untuk  membedakan antara UDT dan testis retraktil. Hasilnya 20% UDT dapat  diturunkan sampai posisi normal, dan 58% retraktil testis dapat normal.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>b.  LHRH</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dosis 3 x 400 ug intranasal, selama 4 minggu. Akan menurunkan testis  secara komplet sebesar 30 – 64 %.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong><em>c. </em></strong><strong><em>HCG kombinasi LHRH</em></strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Dosis : LHRH 3 x 400 ug, intranasal, 4 minggu . Dilanjutkan HCG  intramuskuler 5 kali pemberian selang sehari. Usia kurang 2 tahun : 5 x  250 ug,  3 -5 tahun : 5 x 500 ug, di atas 5 tahun : 5 x 1000 ug.</p>
<p style="text-align:justify;">Respon terapi : penurunan testis 86,4%, dengan follow up 2 tahun  kemudian keberhasilannya bertahan 70,6%.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Evaluasi terapi. </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Berdasar waktu : akhir injeksi, 1 bulan, 3 bulan, 3 bulan, 6 bulan,  dan 12 bulan. Berdasar posisi : <strong>respon komplet</strong> bila  testis berada di skrotum, sedang <strong>respon inkomplet</strong> bila  testis posisi inguinal rendah  Efek samping bersifat reversibel. Ujud  kelainan berupa bertambah ukuran testis, pembesaran penis, ereksi,  meningkatnya rugositas skrotum, tumbuhnya rambut pubis hiperpigmentasi  dan gangguan emosi</p>
<p style="text-align:justify;">Terapi Bedah</p>
<p style="text-align:justify;">Tujuan pembedahan adalah memobilisasi testis, adequatnya suplay vasa  spermatika , fiksasi testis yang adequat ke skrotum, dan operasi  kelainan  yang menyertainya seperti hernia.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Indikasi pembedahan  :</em></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Terapi hormonal gagal</li>
<li>Terjadi hernia yang potensial menimbulkan komplikasi</li>
<li>Dicurigai torsio testis</li>
<li>Lokasi intraabdominal atau di atas kanalis inguinalis.</li>
<li>Testis ektopik</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Tahapan :satu tahap atau 2 tahap tergantung vasa spermatika apakah  panjang atau pendek.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Tekinik operasi pada UDT  :</em></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Orchydopexy Standar</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Prinsip dari orchidopexy meliputi 3 tahap</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. </strong><strong>Funikulolisis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adalah pelepasan funikulus spermatikus dari musculus kremester dan  memungkinkan dapat memperpanjang ukurannya. Vasa testicularis di  bebaskan sejauh mungkin ke retroperitoneal dan dimobilisasi lebih ke  medial yang akan meluruskan dan memperpanjang vasa. Terdapat kesulitan  ketika memobilisasi vasa diatas vasa iliaca komunis</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa metode yang digunakan untuk menurunkan testis ke skrotum  antara lain Ombredonne, Bevas, Torek, Cobot – Nesbit, Longord, Gersung,  Denis Browne. George Major menolak metode Mauclain (menurunkan testis ke  kontralateral), juga tidak setuju UDT bilateral dikerjakan sekaligus  dalam satu tahap oleh karena ancaman infeksi dari kesulitan fiksasi pada  septum skrotum</p>
<p style="text-align:justify;">Funikulolisis dikerjakan melalui insisi inguinal tinggi dan testis  diturunkan dengan bantuan tarikan tali (benang) transcrotal ke paha   Bila pasien UDT disertai hernia inguinalis, kantung hernia kanan  dibebaskan dari ligasi seproximal mungkin, kantong vaginalis propria  pada testis dan epidedimis dipertahankan, karena serosa yang membungkus  testis itu penting bagi spermatogenesis.</p>
<p style="text-align:justify;">Teknik funikulolisis menurut Beran (1903) memotong vasa testis bila  vasa tersebut sangat pendek dan diharapkan vaskularisasi yang adequat  dari vasa vas defferens. Tetapi teknik ini kurang bagus dengan alasan  maturasi normal memerlukan suplay vaskuler yang optimal.</p>
<p style="text-align:justify;">Teknik operasi orchydopexy standar</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Akses : </strong>Menurut Ombredonne lebih menguntungkan  dengan insisi inguinal tinggi yang memungkinkan mobilisasi vaskuler  retroperitoneal dan menempatkan testis pada skrotum.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Funikulolisis  :</strong></p>
<p style="text-align:justify;">-         setelah diseksi aponeurosis m. obliqus abdominis eksternus  dan membebaskan anulus inguinal eksternus dengan hati-hati untuk  menghindari udema testis</p>
<p style="text-align:justify;">-         pisahkan (split) dinding  kanalis sesuai arah seratnya  sampai dengan anulus inguinalis eksternus</p>
<p style="text-align:justify;">-         bebaskan funikulus spermatikus dan testis beserta tunikanya  dari fascia dan muskulus kremaster</p>
<p style="text-align:justify;">-         Pada kasus UDT dengan hernia, pemisahan tunika vaginalis  funikulus spermatikus secara hati-hati dengan menghindari cedera vasa  dan ductus deferens, dimana hal ini akan memperpanjang rentang funikulus</p>
<p style="text-align:justify;">-         sisihkan m. Oliqus Abdominis Internus dan m. Transversus  Abdominis dengan retraktor ke kraniomedial</p>
<p style="text-align:justify;">-         diseksi funikulus spermatikus ke kranial sampai dengan  lateral dari vasa epigastrika inferior</p>
<p style="text-align:justify;">-       bila belum cukup  panjang untuk memungkinkan testis ke  skrotum tanpa tegang, vasa epigastrika inferior dipotong, sehingga  funikulus spermatikus dapat digeser lebih ke medial.  Bila hal ini belum  dapat panjang berarti funikulus spermatikusnya memang pendek</p>
<p style="text-align:justify;">-       sering kantong hernia kongenital atau prosesus vaginalis  persisten menghambat mobilisasi funikulus, maka lepaskan kantong secara  hati-hati dan ligasi tinggi. Bila peritoneum terbuka jahit secara  atraumatik</p>
<p style="text-align:justify;">-       pembebasan diatas akan lebih mudah bila gubernakulum dipotong  lebih dulu kemudian dilanjut dengan pembebasan testis</p>
<p style="text-align:justify;">-       mobilisasi lanjut ke arah retroperitoneal dilakukan dengan  memotong m. obliqus abdominis internus dan m. transversus abdominis ke  arah kranio lateral atau melepaskan ligamentum inguinalis</p>
<p style="text-align:justify;">-       kemudian vasa spermatika interna dapat dibebaskan secara  retroperitoneal ke kranial sampai melewati vasa iliaka</p>
<p style="text-align:justify;">-       setinggi promontorium vasa akan menyilang ureter. Hati-hati  dalam membebaskannya</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. </strong><strong>Pemindahan testis ke dalam skrotum  (transposisi)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bagian skrotum yang akan ditempati testis telah kosong dan menjadi  lebih kecil dibanding ukuran normal. Regangkan dinding skrotum dengan  diseksi jari-jari sehingga menciptakan suatu ruangan. Traksi ditempatkan  pada gubernakulum Testis yang telah bebas dan funikulus spermatikusnya  cukup panjang, ditempatkan pada skrotum, bukan ditarik ke skrotum.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. </strong><strong>fiksasi testis dalam skrotum</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Adalah hal prinsip bahwa testis berada di skrotum bukan karena  tarikan dan testis tetap berada di habitat barunya, sehingga menjadi  kurang tepat bila keberadaan testis di skrotum itu karena tarikan dan  fiksasi testis.</p>
<p style="text-align:justify;">Fiksasi testis tetap diperlukan.</p>
<p style="text-align:justify;">- Untuk mengikatnya tembuskan benang pada stumb ligamentum hunteri  pada pole bawah testis dengan benang nonabsorpable dan meninggalkan  ujung benang yang panjang</p>
<p style="text-align:justify;">-   perlebar skrotum dengan 2 jari, dengan bantuan jarum reverdin  yang ditembuskan dari kulit skrotum sisi luar dan mengambil ujung benang  panjang tadi dan  keluarkan lagi jarum .</p>
<p style="text-align:justify;">-   Fiksasi kedua ujung benang pada sisi medial paha</p>
<p style="text-align:justify;">-   Teknik lain yang sering di pakai adalah tehnik ombredanne yang  menempatkan testis pada skrotum kontralateral dan mengikatnya pada  septum scroti.</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="499">
<tbody>
<tr>
<td width="168" valign="top"></td>
<td width="161" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="168" valign="top"></td>
<td width="161" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="168" valign="top"></td>
<td width="161" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="168" valign="top"></td>
<td width="161" valign="top"></td>
<td width="170" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Stephen Flower Orchidopexy</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Merupakan modifikasi orchidopexy standar. Ketika arteri testikulariss  tak cukup panjang mencapai skrotum, arteri testikularis diligasi. Jadi  testis hanya mengandalkan arteri vas deferens.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Orchydopexy bertahap
<ol>
<li>Bedah : Testis dibungkus dengan lembaran silastic dan difiksasi ke  pubis pada tahap I.  Setelah 6-8 bulan dilakukan tahap II berupa  eksplorasi dan memasukkan testis ke skrotum</li>
<li> Laparoskopi : Menjepit arteri testikularis  dengan laparoskopi  dikerjakan  pada tahap I intuk UDT tipe abdomen. Setelah 6-8 bulan  dikerjakan Stephen Flower Orchydopexy.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Autotransplantasi</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pembuluh darah testis dilakukan anastomosis pada vasa epigastrika  inferior dengan teknik mikrovaskuler.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Protesis Testis</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pemasangan implant testis silastik untuk knyamanan, kosmetik, dan  psikis.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Komplikasi</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Praoperasi</em></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong> Hernia Inguinalis </strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sekitar 90% penderita UDT mengalami hernia inguinalis lateralis  ipsilateral yang disebabkan oleh kegagalan penutupnan processus  vaginalis. . Hernia repair dikerjakan saat orchydopexy . Hernia  inguinal  yang menyertai UDT segera dioperasi untuk mencegah komplikasi</p>
<table style="text-align:justify;" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="461" valign="top"></td>
</tr>
<tr>
<td width="461" valign="top"></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. </strong><strong>Torsio Testis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kejadian torsio meningkat pada UDT, diduga dipengaruhi oleh dimensi  testis yang bertambah sesuai volume testis. Juga dipengaruhi  abnormalitas jaringan penyangga testis sehingga testis lebih mobil</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>Trauma testis </strong>T</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong> T</strong>estis yang terletak di superfisial tuberkulum  pubik sering terkena trauma</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>4. </strong><strong>Keganasan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Insiden tumor testis pada populasi normal 1 : 100.000, dan pada UDT 1  : 2550. Testis yang mengalami UDT pada dekade 3-4 menpunyai kemungkinan  keganasan 35-48 kali lebih besar . UDT intraabdominal 6 kali lebih  besar terjadi keganasan dibanding letak intrakanalikuler. Jenis  neoplasma pada umumnya ialah seminoma. Jenis ini jarang muncul sebelum  usia 10 tahun. Karena alasan ini maka ada pendapat yang mengatakan UDT  usia diatas 10 tahun lebih baik dilakukan orchydectomy dibandingkan  orchydopexy(4). Menurut Gilbert &amp; Hamilton sekitar 0,2 – 0,4 %  testis ektopik menjadi ganas. Sedang testis dystopik angka keganasannya  8-15%. Campbell menyebut 0,23% untuk ektopik testis dan 11% untuk  dystopik testis. Sementara UDT intrabdominal keganasan 5% dan inguinal  1,2%.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Infertilitas </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penyebabnya ialah gangguan antara germ cell . Infertilitas UDT  bilateral 90%, sedang UDT unilateral 50% (2). Lipschultz, 1976  menunjukkan adanya spermatogenesis yang abnormal post orchydopexy pada  laki-laki umur 21-35 tahun UDT unilateral. Dan menduga bahwa ada  abnormalitas bilateral testis pada  UDT unilateral</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Psikologis </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Timbul perasaan rendah diri fisik atau seksual akibat <em>body image</em> yang muncul. Biasanya terjadi saat menginjak usia remaja (<em>adoloscence</em>)  orang tua biasanya mencemaskan akan fertilitas anaknya.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong><em>Pasca Operasi</em></strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>1. </strong><strong>Infeksi</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Sangat jarang bila tindakan a/antiseptik baik, diseksi yang smooth  dan <em>gentle</em> akan  meminimalkan terjadinya hematom</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li><strong>2. </strong><strong>Atropi Testis</strong></li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Karena funikulolisis tak adequat, traksi testis berlebihan, atau  torsio funikulus spermatikus saat tranposisi testis ke skrotum</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PROGNOSIS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Docimo <sup>10</sup> kesuksesan operasi UDT letak distal  anulus inguinalis internus sebesar 92%, letak inguinal (89%),  orchidopexy teknik mikrovaskuler (84%), orchidopexy abdominal standar  (81%) staged Fowler-Stephens orchidopexy (77%), Fowler-Stephens  orchidopexy   standar (67%)</p>
<p style="text-align:justify;">UDT biasanya turun spontan tanpa intervensi pada tahun pertama  kehidupan. Resiko terjadinya keganasan lebih tinggi di banding testis  normal. Fertilitas pada UDT bilateral: 50% punya anak, sedang UDT  unilateral 80%.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Alur  penatalaksanaan UDT </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dokterugm.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dokterugm.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dokterugm.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dokterugm.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dokterugm.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dokterugm.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dokterugm.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dokterugm.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dokterugm.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dokterugm.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dokterugm.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dokterugm.wordpress.com/54/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dokterugm.wordpress.com/54/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dokterugm.wordpress.com/54/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=54&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/28/undescencus-testiculorum-atau-undescencus-testis-atau-undescended-testicle-atau-sanglir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dacfba4102c900ab4c36cc21be63a6e5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dokterugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Varicocle atau Varikokel atau Varikosel</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/24/varicocle-atau-varikokel-atau-varikosel/</link>
		<comments>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/24/varicocle-atau-varikokel-atau-varikosel/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 May 2010 00:44:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dokterugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Urology]]></category>
		<category><![CDATA[buah pelir]]></category>
		<category><![CDATA[catar]]></category>
		<category><![CDATA[mandul]]></category>
		<category><![CDATA[Polisi]]></category>
		<category><![CDATA[UGM]]></category>
		<category><![CDATA[varicocle]]></category>
		<category><![CDATA[varikokel]]></category>
		<category><![CDATA[varikosel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dokterugm.wordpress.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Adalah dilatasi abnormal / varises dari vena spermatika interna ( Pleksus pampiniformis proksimal dari testes ) akibat terganggunya aliran darah balik vena spermatika interna. Insiden 10% pada usia muda , dimana sebelah kiri lebih sering dari yang kanan , karena Vena spermatika interna kiri bermuara pada vena renalis kiri dengan arah tegak lurus , sedang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=52&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Adalah dilatasi abnormal / <strong><em>varises dari vena spermatika  interna</em></strong> ( Pleksus pampiniformis proksimal dari testes )  akibat terganggunya aliran darah balik vena spermatika interna. Insiden  10% pada usia muda , dimana <strong><em>sebelah kiri lebih sering dari  yang kanan</em></strong> , karena Vena spermatika interna kiri bermuara  pada vena renalis kiri dengan arah tegak lurus , sedang yang kanan  bermuara pada vena cava dengan arah miring serta  Vena spermatika  interna kiri lebih panjang dan katupnya lebih sedikit<span id="more-52"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Etiologi</strong></p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Inkompeten dari klep akibat pengaruh gravitasi sehingga pengosongan  darah pleksus pampiniformis jelek, secara bertahap vena menjadi lebar  dan berkelok.</li>
<li>Vena spermatika interna kiri bermuara pada vena renalis kiri dengan  arah tegak lurus , sedang yang kanan bermuara pada vena cava dengan arah  miring</li>
<li>Vena spermatika interna kiri lebih panjang dari yang kanan dan  katupnya lebih sedikit</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;">Varikokel dapat menimbulkan proses spermatogenesis karena :</p>
<p style="text-align:justify;">Stagnasi darah balik  à testes hipoksia</p>
<p style="text-align:justify;">Refluk hasil metabolit ginjal dan adrenal melalui vena spermatika  interna</p>
<p style="text-align:justify;">Peningkatan suhu testes</p>
<p style="text-align:justify;">Anastomose pleksus pampiniformis kiri dan kanan  à gangguan  spermatogenesis testes kanan à<strong> INFERTILITAS</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Klinis</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Belum punya anak stelah beberapa tahun menikah</p>
<p style="text-align:justify;">Benjolan di atas testes terasa nyeri</p>
<p style="text-align:justify;">Pemeriksaan</p>
<p style="text-align:justify;">Pasien dalam keadaan berdiri nampak adanya masa vena dilatasi /  berkelok berada di belakang dan atas dari testes  (Manuver Valsava )</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Grade  I         :  sulit diobservasi</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Grade  II       I  dengan valsava teraba</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em>Grade  III      :  Teraba saat bangun tidur</em></p>
<p style="text-align:justify;">Analisa sperma</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Terapi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ligasi Tinggi vena spermatika interna di atas anulus inguinalis  internus <strong>( PALOMO)</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Varikolektomi metode <strong>IVANISEVICH</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Perkutan  à memasukan bahan skelrosing ke vena spermatika interna,  metode ini tidak dilakukan lagi karena resiko emboli</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dokterugm.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dokterugm.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dokterugm.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dokterugm.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dokterugm.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dokterugm.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dokterugm.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dokterugm.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dokterugm.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dokterugm.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dokterugm.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dokterugm.wordpress.com/52/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dokterugm.wordpress.com/52/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dokterugm.wordpress.com/52/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=52&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/24/varicocle-atau-varikokel-atau-varikosel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dacfba4102c900ab4c36cc21be63a6e5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dokterugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Reaksi Transfusi Darah</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/20/reaksi-transfusi-darah/</link>
		<comments>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/20/reaksi-transfusi-darah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 00:38:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dokterugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kedokteran Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[ABO]]></category>
		<category><![CDATA[anafilaksi]]></category>
		<category><![CDATA[darah]]></category>
		<category><![CDATA[donor]]></category>
		<category><![CDATA[PMI]]></category>
		<category><![CDATA[reaksi]]></category>
		<category><![CDATA[resipien]]></category>
		<category><![CDATA[rH]]></category>
		<category><![CDATA[transfusi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dokterugm.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[Transfusi darah masif jarang dilakukan, lebih-lebih sebab permintaan darah hampir selalu tersendat-sendat. Kalau terjadi perdarahan banyak dan persediaan darah kurang, yang diberikan ialah cairan pengganti darah. Kadang-kadang transfusi darah masif dapat dilakukan sebab persediaan darah cukup dan kadang-kadang donor juga cukup banyak. Seandainya persediaan darah cukup, maka pemberian suatu transfusi masif bukan tanpa risiko untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=48&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p>Transfusi darah masif jarang dilakukan, lebih-lebih sebab  permintaan darah hampir selalu tersendat-sendat. Kalau terjadi  perdarahan banyak dan persediaan darah kurang, yang diberikan ialah  cairan pengganti darah.</p>
<p>Kadang-kadang transfusi darah masif dapat dilakukan sebab persediaan  darah cukup dan kadang-kadang donor juga cukup banyak. Seandainya  persediaan darah cukup, maka pemberian suatu transfusi masif bukan tanpa  risiko untuk terjadinya macam-macam komplikasi, sehingga diperlakukan  alat tambahan untuk memudahkan kita memantau selama pemberian transfusi  masif tersebut. Alat tambahan tersebut antara lain ialah EKG, analisis  gas darah, dan CVP.<span id="more-48"></span></p>
<p>Selain risiko, penyediaan alat-alat dan pemeriksaan analisis gas  darah yang berulang merupakan beban biaya tambahan bagi penderita.</p>
<h3><strong>DEFINISI</strong></h3>
<p>Transfusi darah masif adalah pemberian darah dengan kecepatan lebih  dari 30 ml/kg BB/jam ( 2 ), atau dapat juga dikatakan pemberian darah  secara mendadak lebih dari 1,50 kali perkiraan jumlah darah penderita  (5, 8).</p>
<h3><strong>KEGUNAAN</strong></h3>
<p>Transfusi darah disini digunakan untuk :</p>
<p>1. Memperbaiki kapasitas pengangkutan oksigen.</p>
<p>2. Mempertahankan volume darah (1, 8).</p>
<h3><strong>KOMPLIKASI TRANSFUSI DARAH</strong></h3>
<p>Pada umumnya komplikasi transfusi ini dibagi menjadi :</p>
<blockquote><p>I. Reaksi imunologi</p>
<p>II. Reaksi non imunologi</p>
<p>III. Komplikasi yang berhubungan dengan transfusi darah  masif.</p></blockquote>
<p><strong>I. REAKSI IMUNOLOGI</strong></p>
<p><strong>A. REAKSI TRANSFUSI HEMOLITIK</strong></p>
<p>Reaksi transfusi hemolitik merupakan reaksi yang jarang terjadi  tetapi serius dan terdapat pada satu diantara dua puluh ribu penderita  yang mendapat transfusi (8).</p>
<p>1. Lisis sel darah donor oleh antibodi resipien.</p>
<p>Hal ini bisa terjadi dengan cara :</p>
<blockquote><p>a. Reaksi transfusi hemolitik segera</p>
<p>b. Reaksi transfusi hemolitik lambat.</p>
<p>2. Lisis sel resipien oleh antibodi darah transfusi secara  masif.</p></blockquote>
<p>Reaksi ini sering terjadi akibat kesalahan manusia sebagai pelaksana,  misalnya salah memasang label atau membaca label pada botol darah.</p>
<p>Tanda-tanda reaksi hemolitik lain ialah menggigil, panas, kemerahan  pada muka, bendungan vena leher , nyeri kepala, nyeri dada, mual,  muntah, nafas cepat dan dangkal, takhikardi, hipotensi, hemoglobinuri,  oliguri, perdarahan yang tidak bisa diterangkan asalnya, dan ikterus.  Pada penderita yang teranestesi hal ini sukar untuk dideteksi dan  memerlukan perhatian khusus dari ahli anestesi, ahli bedah dan  lain-lain.</p>
<p>Tanda-tanda yang dapat dikenal ialah takhikardi, hemoglobinuri,  hipotensi, perdarahan yang tiba-tiba meningkat, selanjutnya terjadi  ikterus dan oliguri.</p>
<p>Diagnosis dapat ditegakkan dengan adanya hemoglobinemi dan  hemoglobinuri. Urine menjadi coklat kehitaman sampai hitam dan mungkin  berisi hemoglobin dan butir darah merah. (8).</p>
<p>Terapi reaksi transfusi hemolitik : pemberian cairan intravena dan  diuretika. Cairan digunakan untuk mempertahankan jumlah urine yang  keluar.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dokterugm.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dokterugm.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dokterugm.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dokterugm.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dokterugm.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dokterugm.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dokterugm.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dokterugm.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dokterugm.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dokterugm.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dokterugm.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dokterugm.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dokterugm.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dokterugm.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=48&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/20/reaksi-transfusi-darah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dacfba4102c900ab4c36cc21be63a6e5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dokterugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Introduksi Biomolekular</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/18/introduksi-biomolekular/</link>
		<comments>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/18/introduksi-biomolekular/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 May 2010 00:32:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dokterugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kedokteran Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[alel]]></category>
		<category><![CDATA[dna]]></category>
		<category><![CDATA[eukaryota]]></category>
		<category><![CDATA[gen]]></category>
		<category><![CDATA[genome]]></category>
		<category><![CDATA[mitokondria]]></category>
		<category><![CDATA[molekular]]></category>
		<category><![CDATA[prokaryota]]></category>
		<category><![CDATA[resesif]]></category>
		<category><![CDATA[ribonukleat]]></category>
		<category><![CDATA[RNA]]></category>
		<category><![CDATA[strain]]></category>
		<category><![CDATA[transkripsi]]></category>
		<category><![CDATA[translasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dokterugm.wordpress.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[DNA &#38; EKSPRESI GEN -         Organisme multi seluler memiliki struktur &#38; fungsi yang berbeda. -         Setiap sel mengandung genome yg sama à contoh sel neuron &#38; sel limfosit mamalia sangatlah berbeda, namun keduanya mngandung genom yg sama. -         DNA : Asam deksiribonukleat à bagian dari gen yg dpt dibaca -         Control ekspresi gen pada level [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=44&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p><strong>DNA &amp; EKSPRESI GEN</strong></p>
<p>-         Organisme multi seluler memiliki struktur &amp; fungsi yang  berbeda.</p>
<p>-         Setiap sel mengandung genome yg sama à contoh sel neuron  &amp; sel limfosit mamalia sangatlah berbeda, namun keduanya mngandung  genom yg sama.</p>
<p>-         DNA : Asam deksiribonukleat à bagian dari gen yg dpt dibaca<span id="more-44"></span></p>
<p>-         Control ekspresi gen pada level gen:</p>
<ol>
<li>Transcriptional control</li>
<li>RNA processing control</li>
<li>Translation control</li>
<li>Protein activity control</li>
</ol>
<p>-         DNA  adl rangkaian dari deoksiribonukleat membentuk  kromatin.</p>
<p>-         DNA ~ genome : manusia mempunyai genome yg terdapat di inti  (nukleus) dan mitokondria. Gen di mitokondria blm teratur sdgkan di  nucleus sdh teratur.</p>
<p>-         Central dogma :</p>
<p>Gen</p>
<p>?</p>
<p>mRNA</p>
<p>?</p>
<p>Protein (struktur, dinamik)</p>
<p><strong>Struktur Gen </strong></p>
<ol>
<li>Exon à yg membawa kodon(kode yg dpt dibaca)</li>
<li>Intron à yg membawa kode yg tidak bias dibaca</li>
<li>Peomoter à utk proses transkripsi : ACGT –mjd btk RNA oleh enzim RNA  polymerase</li>
</ol>
<p>* <strong>GEN</strong></p>
<p>*<strong>Gen Regulator</strong></p>
<p><strong>Maturasi  mRNA :</strong></p>
<ol>
<li>Capping</li>
</ol>
<p>Tujuan capping :</p>
<p>-         Beda dgn hasil transkripsi polymerase 1 &amp; 3</p>
<p>-         Mudah diikat dgn CBC</p>
<p>-         Membantu proses translasi</p>
<ol>
<li>Polidenilation</li>
<li>Splicing</li>
</ol>
<p>-         menghilangkan sekuens intron</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="254" align="left">
<tbody>
<tr>
<td width="44" valign="top"><strong>code </strong></td>
<td width="102" valign="top"><strong>Universal code -Human</strong></td>
<td width="108" valign="top"><strong>mitochondrial Codon</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top"><strong>UGA</strong><strong> </strong></td>
<td width="102" valign="top"><strong>Stop</strong></td>
<td width="108" valign="top"><strong>Trp </strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top"><strong>AGA</strong><strong> </strong></td>
<td width="102" valign="top"><strong>Stop</strong></td>
<td width="108" valign="top"><strong>Arg</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top"><strong>AGG</strong><strong> </strong></td>
<td width="102" valign="top"><strong>Arg</strong></td>
<td width="108" valign="top"><strong>Stop</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="44" valign="top"><strong>AUA</strong><strong> </strong></td>
<td width="102" valign="top"><strong>Ile</strong></td>
<td width="108" valign="top"><strong>Met</strong></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>-         consensus sequence:</p>
<ol>
<li>mRNA transport/export</li>
</ol>
<p>-         highly selective</p>
<p>-         complete and in packed mRNA</p>
<p><strong>Kode Genetik</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>* Sintesis Protein :</strong></p>
<ol>
<li>Transkripsi</li>
<li>Translasi</li>
</ol>
<p><strong> GENOME MITOKONDRIAL </strong></p>
<p>-         Genome Mitokondria manusia mengandung:</p>
<ol>
<li>DNA (16.569 base pairs of DNA)</li>
<li>terorganisasi scr sirklar tertutup</li>
</ol>
<p>-         Mengkode:<strong> </strong></p>
<ol>
<li>2 ribosomal RNA (rRNA)</li>
<li><strong>2. </strong>22 transfer RNA (tRNA)<strong> </strong></li>
<li><strong>3. </strong>13 polipeptida<strong> </strong></li>
</ol>
<p>-         13 polipeptida membentuk protein :<strong> </strong></p>
<ol>
<li>membrane dlm mitokondria</li>
<li><strong>2. </strong>7 subunit NADH dehydrogenase<strong> </strong></li>
<li><strong>3. </strong>3 subunit sitokrom c-oksidase <strong> </strong></li>
<li><strong>4. </strong>2 subunit ATP sintase<strong> </strong></li>
<li><strong>5. </strong>sitokrom-b<strong> </strong></li>
</ol>
<p><strong>Perbedaan Kodon Gena Umum &amp; Mitokondria</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mutasi Gen :</strong></p>
<p>Jenis Mutasi :</p>
<ol>
<li>Substitusi basa tunggal</li>
</ol>
<p>-         Transversi : basa pirimidin à basa purin atau sebaliknya</p>
<p>-         Basa pirimidin à basa pirimidin yg</p>
<p>lain</p>
<p>à Basa purin yg lain</p>
<ol>
<li>Delesi : kehilangan nukleotida</li>
<li>Insersi : penambahan / sisipan nuklleotida</li>
<li>Duplikasi : penggandaan nukleotida</li>
</ol>
<p>Letak Mutasi :</p>
<p>Regulator (promoter), splice junction, coding sequence, didlm intron  hot spot.</p>
<p>Hubungan genotip-fenotip mutasi gen:</p>
<p>-         nonsense à stop kodon/ terminasi premature</p>
<p>-         Missense à menghasilkan kodon yg berubah à protein abnormal  atau normal polimorfiosme</p>
<p>-         Frameshift à susunan kodon rusak</p>
<p>-         Inframe à susunan kodon terjaga (bias bertambah/berkurang  pjgnya)</p>
<p>-         Silence à Kodon berubah tetapi as. Amino</p>
<p>Lokasi Mutasi  (gambar slide 47)</p>
<p><strong>KONSEP DASAR FRAMESHIFT</strong></p>
<p><strong>the  bad  and  old  dog  eat  the  fat  cat</strong></p>
<p>-         Delesi/insersi nukleotid tidak kelipatan 3:</p>
<p>the  bad  and  old   dog  ate  the  fat  cat</p>
<p>?</p>
<p>the ada ndo ldd oga tet hef atc atàDMD</p>
<p>-         Delesi/insersi nukleotid kelipatan 3:</p>
<p>the  bad  and  old  dog  ate  the  fat  cat</p>
<p>?</p>
<p>bad and old dog ate the fat catàBMD</p>
<p><strong>INTRODUCTION TO CELLS</strong></p>
<p><strong>(RNS 030309)</strong></p>
<p><strong>4 Jaringan dasar yang ada di system tubuh kita :</strong></p>
<p>-         Jaringan ikat</p>
<p>-         Jaringan epitel</p>
<p>-         Jaringan saraf</p>
<p>-         Jaringan otot</p>
<p>à Jaringan dibentuk oleh sel dan matrix ekstraseluler</p>
<p>à Epitel : selnya banyak matriks ekstra selulernya dikit</p>
<p>à Sel : unit terkecil pada tubuh kita</p>
<p>à Dalam sel ada organela-organela yang didukung o/ molekul2.</p>
<p><strong>Sel dibagi 2:</strong></p>
<ol>
<li>Eukariotik à ada sel dan membran inti, ada organella</li>
<li>Prokariotik à tidak dibatasi o/ membran inti, tidak ada organella,  DNAnya sirkeler (tidak adsa ujung2nya)</li>
</ol>
<p><strong>Fungsi-Fungsi</strong></p>
<p>-         Lisosom:</p>
<p>-         Mitokondria</p>
<p>-         RE</p>
<p>-         Peroksisom</p>
<p>-         App. Golgi</p>
<p>-         Membran : terdiri dari 2 lapisan fosfolippid yg diantaranya  terdapt protein2. Sebagai pembatas sel2 di tubuh kita agar tidak  sembarang bahan bisa keluar masuk shg suasana u/ metabolisme tetap  terjaga.</p>
<p>-         Fosfolipid ada 2 bentuk : hidrofilik dan hidrofobik</p>
<p>-         Sphingomielin : merupakan bhn pembentuk fosfolipid u/  membran sel</p>
<p>-         Myelin : membran plasma dari sel oligodendritik.</p>
<p><strong>Passive Difussion</strong></p>
<p>-         fosfolipid bisa ditembus semua bhn yg larut : gas, lemak2,  kecuali air</p>
<p>-         Arahnya : tergantung dari derajat konsentrasinya</p>
<p>-         Glukosa, asam amino tidak larut dlm lemak sehingga tdk dpt  menembus membran sel à maka dibantu oleh protein2 carrier à disebut  difusi ysng difasilitasi à arah alirannya tergantung derajat  konsentrasinya (dari yg banyak ke yg sedikit).</p>
<p>-         Tp dgn adanya ATP maka arah alirandpt dilawan à aktif  transpor</p>
<p>-         NaK ATPase à memompa Na dari dlm keluar dan memompa K dari  luar ke dlm.</p>
<p>-         Na à lebih byk di ekstraseluler dibanding di intraseluler</p>
<p>-         K à lebih banyakdi intraseluler</p>
<p><strong>MOLECULAR BIOLOGY OF TROPICAL INFECTIOUS DISEASE</strong></p>
<p><strong>(TW 160309)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Patogen: </strong>Bakteri, virus, jamur, parasit, protozoa,  virion (hanya terdiri dari 1 AA tp bias menimbulkan penyakit)</p>
<p><strong>Amoxicillin </strong></p>
<p>à menghambat pembentukan peptoglikan (dinding sel bakteri)</p>
<p>à manusia tidak punya pepttoglikan</p>
<p>Ada bakteri yg mempunyai enzim beta laktamase yg dpt di non aktifkan  o/ penicillin</p>
<p><strong>Perbedaan :</strong></p>
<p><strong>Eukariot</strong></p>
<p>-         ada inti sel à dgn membrane inti  mirip membrane sel</p>
<p>-         ada organela</p>
<p>-         Linier</p>
<p>-         mitokokdria</p>
<p><strong>Prokaryote</strong></p>
<p>-         Tidakl ada inti tp kondensasi kromosom</p>
<p>-         Tidak ada membrane inti</p>
<p>-         Ada ribosom</p>
<p>-         Tidak ada organelle</p>
<p>-         Punya alat gerak dilihat 1000 x</p>
<p>-         Plasmid (mirip mitokondria)</p>
<p>-         Moleculary sirkuler</p>
<p><strong>Genom</strong> à keseluruhan rangkaian DNA dlm satu individu  (kromosom 1 – 22 &amp; kromosom sex)</p>
<p><strong>DNA ada di:</strong></p>
<ol>
<li>Di kromosom</li>
<li>di mitokondria</li>
</ol>
<p>à DNA ada di kepala sperma sehinga diturunkan, jika mitokondria tidak  ikut membuahi jadi tidak diturunkan ke anak.</p>
<p>à semua sel di tubuh mempunyai DNA yg sama tapi beda ekspresinya</p>
<p>DNA : harddisk</p>
<p>Gena : Datanya</p>
<p>à Jagung DNA lebih besar dari manusia tp byk yg tdk ada artinya  sebaliknya pd manusia.</p>
<p>à pd eukaryote à genanya 1 tp bias memproduksi berbagai macam protein</p>
<p>à <strong>Distropain</strong> à mengandung 79 exon paling panjang  diantara sel manusia yg lain.</p>
<p>à Sebagian besar prokariot mempunyai 1 molekul</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sedangkan pd prokariot prosesnya sama dgn eukariot tp tidak ada  proses splicing tp sudah tersusun rapi.</p>
<p><strong>KESIMPULAN:</strong></p>
<p>-         DNA eukariot dan prokariot sama cuna beda dlm hal :</p>
<ol>
<li>pengorganisasian (DNA prokaryote srkuler dan diplintir mjd  supercoil). Eksprtesinya à sam2 transkripsi tp ada proses yg beda pada  prokaryote ada mekanisme openon system</li>
<li>tdk ada splicing pd prokaryote shg tdk pernah mengenal alternative  splicing à 1 gena u/ bermacam2 protrein</li>
<li>Tidak ada bekteri yang sama yg punya mekanisme on dan off yg sama pd  1 sel</li>
</ol>
<p><strong>VIRUS</strong></p>
<p><strong>Struktur:</strong></p>
<p>-         Genom virus : bias RNA/ DNA</p>
<p>-         Spike projection : lipoprotein<strong> </strong></p>
<p>-         Lipid envelope<strong> </strong></p>
<p>-         Kapsid<strong> </strong></p>
<p>-         Ada single/ double strand (terdiri dari positif strand = yg  dibaur sam dgn mRNA dan negative strand = blawade)<strong> </strong></p>
<p><strong>Replikasi DNA genom</strong></p>
<p>DNA virus</p>
<p>Type I. ds DNA à ds DNA</p>
<p>Type II. DNA + à ds DNA jadi DNA + dan DNA–</p>
<p>Type VI (retrovirus)</p>
<p>+ RNA  à – DNA à +  ds DNA à + RNA</p>
<p>Type VII ds DNA + à RNA + à – DNA à ds DNA</p>
<p><strong>Jamur </strong></p>
<p>-         mrpkn eukaryote</p>
<p>-         ddg sel yg jauh berbeda</p>
<p>-         membrane sel : ergosterol (target yg gol azol)</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dokterugm.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dokterugm.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dokterugm.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dokterugm.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dokterugm.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dokterugm.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dokterugm.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dokterugm.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dokterugm.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dokterugm.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dokterugm.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dokterugm.wordpress.com/44/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dokterugm.wordpress.com/44/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dokterugm.wordpress.com/44/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=44&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/18/introduksi-biomolekular/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dacfba4102c900ab4c36cc21be63a6e5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dokterugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tumor payudara dan Kanker payudara</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/14/tumor-payudara-dan-kanker-payudara/</link>
		<comments>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/14/tumor-payudara-dan-kanker-payudara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 14 May 2010 00:29:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dokterugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Tumor]]></category>
		<category><![CDATA[FAM]]></category>
		<category><![CDATA[Fibroadenoma mammae]]></category>
		<category><![CDATA[kangker]]></category>
		<category><![CDATA[kanker]]></category>
		<category><![CDATA[mamma]]></category>
		<category><![CDATA[mammae]]></category>
		<category><![CDATA[mamme]]></category>
		<category><![CDATA[payudara]]></category>
		<category><![CDATA[tumor]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dokterugm.wordpress.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[Benjolan payudara secara secara umum disebut sebagai tumor payudara jika jinak dan kanker payudara jika ganas. kedua penyakit ini kadang sulit dibedakan, meskipun demikian terdapat kaidah umum mengenai jinak atau tidaknya suatu pertumbuhan. Tumor jinak biasanya memiliki karakter: 1 tumbuh bukan pada usia kanker. yang dimaksud ini adalah usia remaja, belasan tahun. 2. tumbuhnya pelan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=41&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p>Benjolan payudara secara secara umum disebut sebagai tumor  payudara jika jinak dan kanker payudara jika ganas.</p>
<p>kedua penyakit ini kadang sulit dibedakan, meskipun demikian terdapat  kaidah umum mengenai jinak atau tidaknya suatu pertumbuhan. Tumor jinak  biasanya memiliki karakter:<span id="more-41"></span></p>
<p>1 tumbuh bukan pada usia kanker. yang dimaksud ini adalah usia  remaja, belasan tahun.</p>
<p>2. tumbuhnya pelan.</p>
<p>3. benjolan itu berbatas tegas.</p>
<p>4. kulit diatas permukaan masa tumor serupa dengan bagian normal.  atau dapt saja terdapat tanda radang yaitu nyeri, demam, sakit atau  warna kemerahan. hal ini menunjukkan infeksi.</p>
<p>Tumor ganas biasa bersifat</p>
<p>1. cepat tumbuh</p>
<p>2. menyelusup atau infiltasi ke jaringan sekitar sehingga batas tidak  tegas.</p>
<p>3. berbenjol-benjol.</p>
<p>4. kulit diatas masa tumor seperti kulit jeruk.</p>
<p>5. tumor melekat di kulit atau dinding dada.</p>
<p>6. kalau sudah lanjut dapat teraba benjolan di ketiak.</p>
<p>meskipun demikian tentu saja ada beberapa macam tumor di peralihan  keduanya. jika terdapat benjolan tesebut segera datanglah ke dokter  bedah.</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dokterugm.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dokterugm.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dokterugm.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dokterugm.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dokterugm.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dokterugm.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dokterugm.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dokterugm.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dokterugm.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dokterugm.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dokterugm.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dokterugm.wordpress.com/41/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dokterugm.wordpress.com/41/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dokterugm.wordpress.com/41/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=41&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/14/tumor-payudara-dan-kanker-payudara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dacfba4102c900ab4c36cc21be63a6e5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dokterugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Payudara atau Mammae</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/11/payudara-atau-mammae/</link>
		<comments>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/11/payudara-atau-mammae/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 May 2010 00:35:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dokterugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kedokteran Dasar]]></category>
		<category><![CDATA[Anatomi]]></category>
		<category><![CDATA[eksterna]]></category>
		<category><![CDATA[interna]]></category>
		<category><![CDATA[latissimus]]></category>
		<category><![CDATA[line]]></category>
		<category><![CDATA[mamarian]]></category>
		<category><![CDATA[mammae]]></category>
		<category><![CDATA[mammaria]]></category>
		<category><![CDATA[payudara]]></category>
		<category><![CDATA[thorax]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dokterugm.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[Embriologi Payudara merupakan modifikasi kelenjar keringat berasal dari ektoderm, sedang lemak dan elemen fibreusnya berasal dari mesoderm. Payudara tumbuh mulai dengan penebalan “ milk ridge(line) “ sejak intrauterin  bulan ke 2, dan terbentang dari aksilla sampai inguinal. Sebagian besar menghilang tetapi di daerah pektoral yang tinggal, tempat dimana payudara normal berada. Bila terjadi persisten sepanjang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=46&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p><strong>Embriologi</strong></p>
<p>Payudara merupakan modifikasi kelenjar keringat berasal dari  ektoderm, sedang lemak dan elemen fibreusnya berasal dari mesoderm.  Payudara tumbuh mulai dengan penebalan <strong>“ milk ridge(line) “</strong> sejak intrauterin  bulan ke 2, dan terbentang dari aksilla sampai  inguinal. Sebagian besar menghilang tetapi di daerah pektoral yang  tinggal, tempat dimana payudara normal berada. Bila terjadi persisten  sepanjang linea tersebut akan terjadi payudara lebih sepasang atau  polymastia atau polythelia. Pada tempat tersebut ektoderm akan  proliferasi  dan pada akhir kehidupan foetal akan terbentuk <strong>“ mammaria pit “</strong> (celah payudara). Sebelum lahir pit membentuk konversi kedalam dan  sedikit menonjol. Pada pertumbuhan selanjutnya akan dipengaruhi oleh  hormon dari pituitary dan ovarium.<span id="more-46"></span></p>
<p>Kelainan Congenital</p>
<ul>
<li>Tidak ada payudara = amastia</li>
<li>Polymasthia = terjadi banyak payudara sepanjang linea mammaria</li>
<li>Athelia = tak terbentuk papilla</li>
<li>Polythelia = banyak papilla</li>
<li>Retraksi papilla congenital harus dibedakan dengan kejadian yang  dipandang sebagai satu dari Carcinoma payudara</li>
</ul>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Anatomi</strong></p>
<p>Payudara terletak dari costa 2 sampai costa 6 , batas medial sternum  sedang lateral sampai ke linea axillaris anterior. Jaringan payudara  meluas dari clavicula di garis tengahnya sampai costa 8 ke linea  axillaris posterior, yang dikenal sebagai daerah <strong>Disseksi  mastektomi radikal.</strong> Sebagai tambahan axillary tail (Spence  tail) meluas dari tepi atas dan luar supero-lateral menutup m.  pectoralis mayor. Lymphonodi axilla erat hubungannya dengan axillary  tail tersebut.</p>
<p>Payudara terdiri dari komponen <strong>muskulokutis dan lemak</strong>.  Payudara menempati bagian tubuh antara iga ke-3 sampai iga ke-7 serta  terbentang dari linea parasternalis sampai linea aksilaris anterior atau  media. Bagian mesenkima payudara terutama menempati fascia pectoralis  dan musculus serratus anterior. Pada umumnya jaringan payudara akan  meluas ke dalam lipatan ruang aksila yang sering dikenal sebagai <strong><em>axillary  tail of Spence</em></strong>. Antara fascia superfisialis dan profundus  ( fascia pektoralis ) terdapat ruang submamaria yang kaya akan kelenjar  limfe. Pada bagian profunda areola mamma terdapat lemak bebas yang  didalamnya terdapat <strong>ductus lactiferus</strong> yang melebar  membentuk sinus. Di dalam sinus ini ASI disimpan. Ligamentum  suspensorium dari Cooper membentuk septa fibrosa yang kuat yang  menyokong parenkim payudara dan terbentang dari fascia pektoralis  profunda ke lapisan fascia superfisialis di dalam dermis. Invasi kanker  payudara ke ligamentum tersebut menimbulkan kontraksi yang menyebabkan  gambaran retraksi pada papilla mamma.</p>
<p>Sedangkan <strong>peau d’orange merupakan akibat sekunder dari  obstruksi  kelenjar limfe. </strong></p>
<p>Payudara diperdarahi oleh cabang :</p>
<ul>
<li>a. mammaria interna  à mendarahi tepi medial</li>
<li>a. thorakalis lateralis(mamaria eksterna) à mendarahi bagian lateral</li>
<li>a. thorako-akromialis à  mendarahi bagian dalam</li>
<li>a. thorako-dorsalis à mendarahi m. Latissimus dorsi &amp; m.seratus  magnus</li>
</ul>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p>Sistem pembuluh vena meliputi v. interkostalis dari spasium  interkostal kedua sampai keenam untuk memasuki v. vertebralis di  posterior. Vena interkostalis juga bisa memasuki v. azygos yang bermuara  ke dalam v. cava superior. V. aksilaris menerima darah dari bagian  superior dan lateral payudara. Aliran  vena mengikuti sistem arteri (  Skandalakis <em>et al, </em>1995 ; Sabiston , 1995 ).</p>
<p>Aliran Lymphe</p>
<p>Kulit payudara</p>
<p>-  bagian atas mengalir ke lnn supraclavicula</p>
<p>-  bagian medial (dalam) mengalir ke lnn mammaria interna</p>
<p>-  bagian lateral (luar) mengalir ke lnn pektoralis</p>
<p>Papilla dan areola   à  mengalir ke plexus subareola dari Sappay</p>
<p>Jaringan payudara</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dokterugm.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dokterugm.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dokterugm.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dokterugm.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dokterugm.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dokterugm.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dokterugm.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dokterugm.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dokterugm.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dokterugm.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dokterugm.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dokterugm.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dokterugm.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dokterugm.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=46&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/11/payudara-atau-mammae/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dacfba4102c900ab4c36cc21be63a6e5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dokterugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tehnik Operasi Thyroidectomy</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/09/tehnik-operasi-thyroidectomy/</link>
		<comments>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/09/tehnik-operasi-thyroidectomy/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 May 2010 00:27:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dokterugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Tumor]]></category>
		<category><![CDATA[gondok]]></category>
		<category><![CDATA[operasi]]></category>
		<category><![CDATA[tehnik operasi]]></category>
		<category><![CDATA[thyroidectomy]]></category>
		<category><![CDATA[tiroidektomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dokterugm.wordpress.com/?p=39</guid>
		<description><![CDATA[Tehnik Operasi Thyroidektomi 1.  Menginsisi pada leher bagian depan 4 cm di atas suprasternal notch sedikit melengkung dengan konkavitas ke atas 2.  Memperdalam incise sampai m. plastyma, flap atas dibebaskan dari jaringan di bawahnya dengan cara tajam kemudian dengan cara tumpul sampai setinggi incisura thyroidea. Merawat perdarahan yang terjadi. Flap bawah dibebaskan dengan cara seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=39&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p>Tehnik Operasi Thyroidektomi</p>
<p>1.  Menginsisi pada leher bagian depan 4 cm di atas suprasternal  notch sedikit melengkung dengan konkavitas ke atas</p>
<p>2.  Memperdalam incise sampai m. plastyma, flap atas dibebaskan dari  jaringan di bawahnya dengan cara tajam kemudian dengan cara tumpul  sampai setinggi incisura thyroidea. Merawat perdarahan yang terjadi.  Flap bawah dibebaskan dengan cara seperti di atas sampai setinggi  suprasternal notch, pembebasan bagian medial lebih penting dari pada  bagian lateral<span id="more-39"></span></p>
<p>3.  Membuat insisi vertical di garis tengah leher pada fascia colli  dari cartilage thyroid sampai supra sternal notch.</p>
<p>4.  Memisahkan M. Sternothyroideis secara longitudinal dengan  struktur di bawahnya dengan jari telunjuk dan kemudian disisihkan ke  lateral. Tampak Kapsula chirrugis glandula thyroid dan M. Sternothyroid.</p>
<p>5.  Membuat insisi pada kapsula chirrugis, memisahkan dari stuktur di  bawahnya secara tumpul dengan jari-jari kemudian ditarik ke lateral.  Untuk dissectie sebelah lateral dan posterior di bawah fascia ini harus  hati-hati adanya kemungkinan perlukaan pada V. thyroid media. Maka  tampaklah Gl . thyroidea</p>
<p>6.  Dengan jari-jari lobus lateralis kanan kelenjar thyroid ditarik  kemedial dan V. Thyroidea media diklem dan diligasi barulah dipotong</p>
<p>7.  Lobus lateralis kanan kelenjar thyroid ditarik kekiri bawah dan  M. Sterno hyoideus dan M. Sternothyroideus kanan ditarik kekanan atas  untuk mengexpose pol. Superior lob. Lateralis kanan kel. Thyroid ini.  Kemudian vascular pedicle superior kel. Thyroid sebelah kanan  dimobilisir dengan cara : tajam pada sebelah medialnya dengan klem,  tajam pada sebelah profundusnya yg relative lekat dengan struktur  dibawahnya. Kemudian masukkan jari telunjuk tangan kiri kedalam ruangan  profundus polus superior tersebut yang dibatasi sebelah profundus oleh  Vert. cervicalis, sebelah lateral  A. Carotis. Dengam jari-jari polus  superior ini dibebaskan seluruhnya dari jaringan sekitarnya.</p>
<p>8.  Setelah R. externus n. laryngeus Sup. diindentifikasi dan  diselamatkan, maka Vasa thyroidea superior dipegang dengan klem pada 2  tempat dan diligasi sebelah luar dari klem tersebut dengan zide atau  catgut yg kuat, kemudian dipotong diantara kedua klem diatas. Untuk  lebih safe maka buat ligasi lagi pada sebelah proximal dari ligasi  proximal vasa thyroidea superior.</p>
<p>9.  Melakukan dissectie jaringan ikat kendor yang dibatasi oleh  kelenjar thyroid sebelah medial dari a. rotis disebelah lateral untuk  mencari a. thyroidea inferior. Setelah didapat maka lingkari dengan zyde  atau catgut yang kuat yang masih dilonggarkan lebih dulu. Kemudian  vascular pedicle inferior dibebaskan dari jaringan sekitarnya secara  tumpul.</p>
<ol>
<li>Setelah bebas vascular pedicle inferior ini dipegang dengan klem       kemudian diligasi lalu dipotong seperti vasculair pedicle superior  diatas.</li>
<li>Polus superior dan polus inferior lateralis kanan kelenjar thyroid  yang telah      bebas ini disatukan kemudian lobus lateralis kanan  ditarik ke medial. Jalan       n. laryngeus inferior kanan dan  hubungannya dengan kelenjar             parathyroidea  superior dapat  dilihat</li>
<li>Jaringan ikat kendor yang mengikat kelenjar thyroid kee lig.  Cricothyroid      yang disebut suspensorium dipegang dengan dengan dua  klem dan      dipotong di antara di kedua klem tersebut</li>
<li>Kemudian kelenjar thyroid dapat dipotong (subtotal /partial  resecti). Pada      Subtotal thyroidectomy bilateral/ unilateral sisa  lobus kelenjar thyoid      dijahitkan fascia prethrtacealis dengan zyde.</li>
<li>Operasi pada lobus lateralis kanan untuk total thyroidektomy  dilanjutkan,      bila terdapat a. thyroidea ima dipegang dengan dua  klem diligasi  kemudian dipotong. Isthmus kelenjar thyroid dipisahkan  dengan  permukaan anterior trachea secara tumpul yatu masukkan klem  arteri            yang bengkok diantara isthmus dan trachea dari bawah  keatas kemudian            dibuka ditutup secara berganti. Lalu isthmus  dipegang dengan  dua klem           diligasi dan dipotong</li>
<li>Lobus lateralis kanan kel. Thyroid kemudian dibebaskan seluruhnya  dari      jaringan yang masih melekat padanya</li>
<li>Bila kedua lobus lateralis kel. Thyroid akan dipotong maka prosedur  ini      diulangi pada sisi kiri</li>
<li>M. sternothyroid kanan dan kiri dijahit kembali juga m. sternohyoid  dijahit      kembali dengan zyde. Bila perlu drain dipasang.</li>
<li>Fascia colli dijahit dengan baik</li>
<li>M.platysma dan kulit kemudian ditutup, operasi selesai</li>
</ol>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dokterugm.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dokterugm.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dokterugm.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dokterugm.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dokterugm.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dokterugm.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dokterugm.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dokterugm.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dokterugm.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dokterugm.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dokterugm.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dokterugm.wordpress.com/39/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dokterugm.wordpress.com/39/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dokterugm.wordpress.com/39/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=39&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/09/tehnik-operasi-thyroidectomy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dacfba4102c900ab4c36cc21be63a6e5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dokterugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Parotidectomy atau Parotidektomi</title>
		<link>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/03/parotidectomy-atau-parotidektomi/</link>
		<comments>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/03/parotidectomy-atau-parotidektomi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 03 May 2010 00:23:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dokterugm</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Tumor]]></category>
		<category><![CDATA[operasi]]></category>
		<category><![CDATA[parotidectomy]]></category>
		<category><![CDATA[parotidektomi]]></category>
		<category><![CDATA[parotis]]></category>
		<category><![CDATA[tumor parotis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://dokterugm.wordpress.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[Tehnik Operasi Parotidektomi Posisi dan persiapan pasien seperti operasi thyroid, dengan sudut mata dan commisura labialis tidak tertutup Mensterilisasi daerah operasi dan canalis auditori external Menginsisi T inverted yaitu membuat insisi preauricular kurang lebih 3 mm depan telinga lengkung kearah bawah sampai pada angulus posterior mandibula, kemudian insisi tranversa 3 cm di bawah mandibula sampai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=37&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<p><strong>Tehnik Operasi Parotidektomi</strong></p>
<ol>
<li>Posisi dan persiapan pasien seperti operasi thyroid, dengan sudut  mata dan commisura labialis tidak tertutup</li>
<li>Mensterilisasi daerah operasi dan canalis auditori external</li>
<li>Menginsisi T inverted yaitu membuat insisi preauricular kurang lebih  3 mm depan telinga lengkung kearah bawah sampai pada angulus posterior  mandibula, kemudian insisi tranversa 3 cm di bawah mandibula sampai  mastoid<span id="more-37"></span></li>
<li>Mengangkat kulit dan lemak dengan pisau, gunting dan diseksi tumpul  ke atas, medial, lateral, bawah dan posterior</li>
<li>Untuk flap atas, tarik diseksi kulit ke atas medial dan lateral ke  arah canalis auditory external</li>
<li>Untuk flap bawah dengan menarik deseksi kulit ke arah bawah dan  posterior ke arah prosc. mastoid</li>
<li>Identifikasi dan preservasi n. fasialis</li>
<li>Reseksi lobus supefisialis, dengan gentle tarik glandula dan  selanjutnya di sebelah anterior nevves facialis lakukan diseksi kearah  peripher dari glandula, angkat total dan reseksi lobus superficialis.,  ductus stenson diligasi dan dipotong</li>
<li>Reseksi lobus profundus, yaitu dengan cara  plexus venosus  ptrygodeus, A. carotis external, N. maxillaries, N. temporalis  superfisialis, V. fasialis posterior  diligasi dengan catgut chromic.  Angkat lobus profundus dengan tehnik diseksi piece meal dengan  perlindungan N. fasialis</li>
</ol>
<p>10. Kontrol perdarahan</p>
<p>11. Tutup luka operasi lapis demi lapis</p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/dokterugm.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/dokterugm.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/dokterugm.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/dokterugm.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/dokterugm.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/dokterugm.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/dokterugm.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/dokterugm.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/dokterugm.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/dokterugm.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/dokterugm.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/dokterugm.wordpress.com/37/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/dokterugm.wordpress.com/37/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/dokterugm.wordpress.com/37/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=dokterugm.wordpress.com&amp;blog=13183967&amp;post=37&amp;subd=dokterugm&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://dokterugm.wordpress.com/2010/05/03/parotidectomy-atau-parotidektomi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dacfba4102c900ab4c36cc21be63a6e5?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">dokterugm</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
